Awalnya, keluarga kecil kami terpaksa hidup terpisah. Karena tuntutan tugas, suamiku yang biasa dipanggil papa oleh Chiara dan Revo, harus rela merantau ke tanah Papua. Tanah yang menjanjikan segenggam emas bagi yang mengharapnya dengan usaha dan kerja keras.
Berbeda dengan Revo yang belum begitu mengerti apa artinya berada jauh dari papa, Chiara rupanya menyimpan pengertian tersendiri atas ketidak hadiran papa dalam hari-harinya. Ia mulai paham apa artinya berpisah, berada jauh dari orang yang kita cintai. Jika sebelumnya ia bisa bermanja-manja dan bercanda bersama sang papa, kini hanya bisa mendengar suaranya saja via telepon. Untungnya Chiara anak yang periang, jadi ketidak hadiran papa di sisinya terlihat tak begitu banyak mempengaruhi aktifitasnya sehari-hari.
hanya saja jika kerinduannya memuncak, dia mengekspresikannya lewat beragam cara. mulai dari selalu bertanya tentang papanya…atau yg paling sering dilakukan adalah berteriak: : “Papa….Turuuuunnn…” jika ada pesawat terbang melintas di angkasa, hal ini bahkan sempat menarik perhatian Mr. Judith guru Playgroupnya yg menceritakan kepadaku bagaimana antusiasnya Chiara meneriakkan dua kata itu ketika saat jam sekolah adapesawat melintas di angkasa. tapi anehnya, Chiara tak pernah mau berbicara dg papanya ketika papanya menelepon. kata seorang teman, mungkin itu salah satu bentuk kerinduannya…karena jika ia berbicara di telepon dg papanya yg berada jauh diseberang lautan sana…toh hanya suaranya yg terdengar, tapi ia tak dapat bersamanya…mungkin begitu pikir hati kecilnya…
Oleh karena itu, setiap 3 bulan sekali, jatah cuti papanya (selama 2 minggu) akan betul-betul dinikmati Chiara. Pokoknya dah kayak perangko dan lem deh Chiara dan papa…Chiara akan selalu menempel kemana pun papa melangkah…jika saat kedatangan papa, Chiara akan menyambutnya dengan riang gembira…maka saat harus melepas papa adalah saat yg terberat baginya. Biasanya, si papa balik ke Papua dengan pesawat subuh…jadi otomatis Chiara masih tidur, tapi pada hari sebelumnya papa sudah memberitahu bahwa besok papa akan kembali ke papua, pernah kudengar pembicaran mereka berdua tentang ini, dan Chiara berkata ”Ndak usah…papa di sini saja, sama aku sama mama, sama adik..”, dan papanya menjawab “papa harus ke papua, buat kerja…cari uang buat sekolahnya Chiara, buat beli baju Chiara, buat beli mainan Chiara..ya..” kulihat Chiara tak berkata apa-apa…hanya memandang papanya dengan tatapan sejuta makna…duuh…pasti berat ya, buat anak seumur Chiara buat berpisah sementara dari papanya…
Suatu kali, kedua ortuku yang kebetulan bertugas di Jayapura balik ke rumah kami di Depok. kemudian mama mengajakku dan anak2ku untuk ikut bersama mereka ke Jayapura, anggap saja liburan mumpung mereka sedang tugas di Jayapura, jadi kami diajak ke sana. kuterima tawaran itu…kapan lagi bisa main ke Jayapura, kalau gak sekarang..begitu bujuk mamaku. akhirnya berangkatlah kami ke tempat tugas si eyangnya Chiara ini. rencananya nanti setelah dari Jayapura, sebelum balik ke Depok, kami akan mampir dulu ke Kuala Kencana-Timika tempat papanya Chiara.
Alhasil selama sebulan aku dan anak2 berada di kota tepi laut yang berbukit-bukit ini, Jayapura. Chiara dan Revo rupanya kerasan di sini…bahkan Revo pertama kali berjalan sendiri ya di rumah eyangnya yang di Jayapura ini…padahal sudah sejak usia 9 bulan anak laki-lakiku ini sudah kuat berdiri…tapi belum mau juga berjalan sendiri sampai usianya 1 tahun lebih waktu itu…ternyata di rumah eyangnya di Jayapura, dia berani untuk berjalan sendiri…ada maknanya kah ini…entahlah…mungkin hanya kebetulan juga…tapi di kota ini juga hatiku mantap memutuskan untuk tinggal bersama suamiku di Kuala Kencana-Timika. padahal boleh dibilang, sampai berbusa suamiku dulu mencoba membujukku untuk mengikutinya ke Kuala.
Jika sebelumnya aku kekeuh bertahan untuk tinggal terpisah…karena kupikir waktu itu, hidup di Papua yang terpencil pastinya akan menyengsarakan anak-anakku, apalagi dari segi pendidikan. Kupikir kualitas pendidikan di daerah terpencil seperti itu pastinya akan kalah jauh jika dibanding di pulau Jawa. Aku sendiri pernah mengalaminya, semasa kecil dulu hidup kami sekeluarga selalu berpindah-pindah di daerah-daerah terpencil (karena papa seorang hakim) bahkan pernah sampai ke sebuah kota kecil bernama Gleno di Propinsi Timor-Timur yg waktu itu masih menjadi bagian wilayah NKRI (sekarang menjadi negara merdeka; Timor Leste). ketika aku akhirnya pindah ke Jawa, baru berasa sulit sekali mengejar ketertinggalanku. Aku ingat, kala itu aku kelas 2 SMP dan harus pindah dari Gleno ke Blitar. Harus berpisah dengan teman-teman yang begitu banyak memberikan kenangan bagiku, harus berpisah dengan sebuah kota kecil yg indah. Saat-saat bersekolah di Blitar, seringkali membuatku panas- dingin…bagaimana tidak…mengingat jauh sekali perbedaan kualitas pengajaran dengan di Gleno. Ya, iyalah…secara sarana dan fasilitas belajar mengajar di Jawa lebih memadai dibandingkan dengan daerah terpencil yg kutinggali sebelumnya.belum lagi kualitas guru dan murid-muridnya…Alhasil, dari yang biasanya rangking 1 di kelas, di Jawa ini aku harus puas dengan rangking 32 dari 44 siswa…coba bayangkan bagaimana perasaanku waktu itu…walaupun pelan-pelan aku bisa mengejar ketertinggalanku itu, tapi setidaknya aku tidak mau anak-anakku nantinya harus merasakan hal seperti yang aku alami itu.
Saat di Jayapura, ketakutan-ketakutanku itu sepertinya terjawab…secara tidak langsung selama sebulan berada si Jayapura aku mendapatkan “pencerahan” batin. Banyak kata-kata mama yang terus kurenungkan. “Gak usah khawatir soal pendidikan anak-anak. kalau memang di sana gak maju, lha kan ada kalian yang jadi orangtuanya. dua-duanya sarjana pula..ya buat apa seolah tinggi-tingi sampai sarjana kalau gak bisa mendidik anak…ya tho…ndak usah terlalu khawatir, anak-anak kan sekarang masih kecil, butuh asuhan kalian berdua…nanti kalau mereka sudah besar, mereka akan mencari jalannya sendiri-sendiri…berarti kesempatan kalian sebagai ortu untuk ngumpul bersama-sama mereka ya sekarang ini. coba lihat mama ini, akhirnya kan tinggal berdua sama papa lagi, anak-anak dah mencar sendiri-sendiri. Kamu sendiri kan dulu juga ngalami pernah tinggal di tempat yg pendidikannya gak maju, tapi buktinya kamu bisa masuk universitas negeri yang bagus, berarti kan gak kalah juga sama anak2 yang dari kecil sampai besarnya hidup di pulau Jawa…” Hmmm….dipikir-pikir, benar juga kata-kata mamaku itu ya…Yup! dan akhirnya keputusankupun bulat!
Mama dan papaku ikut mengantar kami ke Timika waktu itu, sewaktu di pesawat dan sudah mendekati Timika, mama memandang keluar jendela dan menitikkan air mata…mama menangis, “lho…kok nangis ma…katanya aku disuruh ikut suami ke sini…mama gak rela? tanyaku. “Bukan begitu…” kata mama disela derai airmatanya “Mama lihat hutan lebat di bawah sana, dan mama bersyukur sekali…ternyata Tuhan menempatkan anak-anak mama di tempat-tempat yang ndak mama kira sebelumnya, adikmu di Batam, kamu di sini…mama yakin Tuhan punya rencana yang indah untuk kita” Oh…terharu sekali aku mendengarnya…dan kami pun menangis bahagia bersama sambil berpelukan..ya, ma…Tuhan memang punya rencana indah untuk kita umat-Nya.
Dan tibalah kami di Kuala Kencana, begitu melihatnya pertama kali, kota ini sudah membuatku jatuh hati. Jalan-jalan yang lebar dan lengang, berpagar pohon-pohon besar yang rindang, kota yang bersih dengan pemandangan memikat hati. Tak berapa lama menetap di kota kecil ini, sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengikuti irama geliat kehidupannya. Bertemu dengan teman-teman baru…menjalin persahabatan dengan orang-orang yang mengasyikan dengan beragam kegiatan yg semakin memperkaya kualitas pribadiku sebagai manusia dan sebagai sesama. Jika kemudian akhir-akhir ini banyak kejadian yang membuat kami khawatir…tapi jika aku berkaca dan melihat pengalaman hidupku selama ini…akupun percaya : Tuhan pasti menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya.
