Punya mama











{November 18, 2008}   Agar-Agar Nanas

Hmmm… lagi punya nanas 2 biji beli hari minggu kemarin setelah misa di Gereja Betlehem, trus seperti biasa, bingung mau dibuat apa. mau dimakan gitu aja, terlalu asam buat lidah Chiara dan Revo, kalau mama-papanya sih doyan aja…

dan karena sejak kemarin masih punya camilan..brownies kukus, yang sekarang udah ludes dihabisin Chiara…maka baru sore ini si buah berwarna kuning tua ini, tersentuh juga olehku. dan karena Chiara doyan banget sama jelly yang biasa kubuat, aku bermaksud menjadikan nanas ini sebagai jelly… eh, sayang seribu sayang…setelah mengaduk-aduk tempat persediaan bahan-bahan makanan ternyata bahan si jelly gak ketemu alias udah habis… yang ada cuma sebungkus agar-agar warna hijau… ya sudahlah daripada ini nanas gak kemakan, bikin agar-agar aja deh… dengan harahap…eh, harap-harap cemas, takutnya si Chiara gak doyan karena tekstur jelly dan agar-agar itu agak-agak beda-beda tipis gitu…sang jelly kan lebih kenyal gimaaanaaa geetoo..sedang si agar-agar tahu sendiri donk kayak apa teksturnya, dan selama ini si Chiara emang lebih suka jelly dibanding agar-agar…:-)

Sim Salabim…dengan kebulatan tekad, akhirnya kukupas juga sang nanas (tapi cuma satu, yang satu disimpan dulu…), setelah bersih lalu kuparut dengan penuh perasaan sambil sedikit mengeluh meratapi blenderku yang rusak, semestinya ini nanas diblender aja kan lebih gampang…ya, sudahlah ternyata memarut juga tak memakan waktu lama bahkan bisa sekalian berolahraga “menguatkan otot lengan”. ngomong-ngomong tentang otot lengan, tadi sempat jadi bahan pembicaraan di kalangan ibu-ibu PG 2 yang menyebut diri “Genk Bocor” (PG 2 itu Playgroup 2, kelas Chiara) -kenapa kalau udah jadi ibu kok lengan gak bisa kecil malah semakin membesar saja… ya iyalah… lha wong segala pekerjaan rumah tangga membutuhkan otot-otot itu, disamping otot-otot lainnya tentu saja… :-)

dan kembali ke cerita sang nanas maka seperti yang telah ditakdirkan baginya, masuklah ia dalam kuali berisi bubuk agar-agar satu bungkus (warna hijau), air kurang lebih 700 ml,  dan gula pasir 6 sdm, terus diaduk sampai mendidih…cicip dikit… hmmm seger…rasanya manis, agak sedikit asam-asam khas nanas gitu… semoga anak-anak suka (doa sang ibu dalam setiap adukan, dalam setiap potongan, dalam setiap usaha kecil di dapur mungil)… dan setelah itu masukkan ke dalam cetakan…jreng…jreng…jadi deh…

sekarang tinggal nunggu dingin dan beku, tapi si Chiara yang baru bangun udah bolak-balik ke dapur nih… mungkin sekarang yang ketiga kalinya, buat negok sang agar-agar dalam cetakan mungil favoritnya…”Mama…! Jellynya udah keras belum…?!” “Aku lihat dulu ya…boleh…?!” wah, dia bilang jelly… code red nih…:-) ya, tapi sudahlah…berharap saja yang terbaik… :)



Hmmm, siang kemarin nemu ketela di Pakde (tukang sayur langganan)… jarang-jarang ada kayak beginian di sini…:-) “Ini tella manis mbak… kalau disimpan malah bisa lebih manis lagi…”promosi pakde menawarkan barang dagangannya. “sing setunggal niki sampun dipesen kalian tiyang mriku.. nah tinggal sing niku mawon (yang ini sudah dipesan orang, tinggal yang itu saja..red)” lanjut si Pakde lagi, ketika aku melihat-lihat dua kantong plastik hitam berisi ketela alias ubi rambat yang tergantung di ganggang sepedanya. “yo, wis pak… niki pinten?” (ya, sudah pak…ini berapa?) tanyaku, “Niku gangsal welas mawon…”jawabnya… waduh, sial nih…sok belagak bisa ngomong jawa, dan sekarang dijawab pake bahasa jawa, aku jadi bingung sendiri…gangsal welas tuh berapa ya…” pikirku dalam hati. melihat aku yang terbengong-bengong sendiri, eh… si pakde malah nyerocos terus dengan bahasa jawa halusnya…mati aku! pikirku, yang kutangkap cuma bahwa harga yang ditawarkan itu murah, itu harga modalnya aja.

maklum perbendaharaan bahasa jawaku terbatas, secara cuma numpang lahir doank di pulau Jawa, tapi besar dimana-mana..:-) setelah melewati beberapa menit permenungan yang “cukup” menguras “energi” akhirnya aku yakin kalau harga yang ditawarkan itu Rp. 15.000,00. ya sudahlah tanpa menawar lagi langsung kubayar…soalnya kalau pake nawar, ntar pake bahasa jawa lagi bisa mampus aku..hehehehe

rencana awal, ini ketela mau dikukus aja. kan udah manis… pasti enak. karena hanya untuk ngetes rasa, aku mengukus 4 ketela, sisanya masih ada 1 kantung keresek…masih bisalah buat-besok-besok lagi…pikirku. setelah matang dan dicoba, ternayata emang manis…tapi memang tak semanis ubi cilembu lah…ya, iyalah…ketela Papua gitu…:-)

tapi tampaknya si Chiara dan papanya kok gak antusias makan ketela kukus tadi, akhirnya putar otak lagi nih… trus ingat resep donat kentang dari mama, buka-buka…trus kepikiran, ini ketela hampir sama lah dengan kentang, sama-sama umbi juga. kalau Kentang bisa dibikin donat, ketela pastinya juga bisa donk… dan namanya juga bisa lebih keren.. DONAT”TELA”… mirip-mirip nama merk sepatu terkenal itu… Donatello ya…(pernah masuk ke counternya yang di Depok sekali…busyet! mahal bo’):-)

nah, akhirnya dengan sedikit modifikasi di sana-sini, jadi juga Donat”tela” ku. dan tester ku yang paling lihai soal makanan pun datang.. siapa lagi kalau bukan..jreng..jreng… Chiara!!! begitu donatnya matang, langsung 4 donat habis dalam waktu kurang dari setengah jam…:-) jadi, jangan ragu lagi… kalau Chiara udah doyan kayak begitu…berarti… yummy!!!! asli enak banget… malah kupikir lebih enak ini dari donat kentang…serius…! Cobain deh…

ini dia resepnya :

BAHAN :

  • 250 gr Ketela alias Ubi rambat (dikukus, lalu dihaluskan)
  • 10 sdm Gula pasir
  • 100 gr margarin
  • 2 kuning telur
  • 4 sdm susu bubuk
  • 1 sdt garam
  • 500 gr tepung terigu protein sedang
  • 250 ml air hangat
  • 1 bks fermipan

Cara Membuat :

  • gula, telur, garam aduk rata tambahkan air hangat, aduk sampai gula larut
  • masukkan fermipan, aduk terus, lalu masukkan ketela yang sudah dihaluskan, tambahkan tepung, susu, dan margarin.
  • uleni, hingga adonan tercampur rata dan tidak lengket (kalis)
  • diamkan selama kurang lebih 2 jam ditutup dengankain/serbet
  • jika adonan sudah mengembang, ambil adonan sedikit demi sedikit dan bentuk menjadi bentuk donat seperti yang diinginkan, lalu diamkan kembali, agar donat menembang kembali.
  • setelah itu, goreng dalam minyak panas, setelah kecokelatan angkat dan dinginkan
  • lalu hiasi sesuai selera, bisa digulingkan ke dalam gula halus, diberi keju, atau coklat… terserah anda…

selamat mencoba…!



{November 2, 2008}   Brownies Kukus Pisang Tanduk

Bahan :

 250 gr Pisang tanduk (yang tua) kukus, lumatkan
100 gr gula pasir halus
200 ml susu cair
200 gr mentega/margarin
6 sdm susu kental manis
50 gr coklat bubuk
150 gr tepung terigu
1 1/2 sdt baking powder
1 sdt soda kue
2 butir telur, kocok rata

Untuk Topping : 250 gr Dark cooking Chocolate 

Cara Membuat: 
  1. Dalam wajan masukkan gula, susu cair, mentega dan susu kental manis, masak di atas api kecil (jangan sampai mendidih) hingga gula larut dan mentega meleleh. Sisihkan.
  2. Tuangkan sedikit campuran susu ke dalam mangkuk kocok berisi coklat bubuk, aduk rata. Masukkan sisa campuran susu ke dalam campuran coklat tadi, aduk rata. Sisihkan. Biarkan dingin.
  3. Masukkan telur satu persatu sambil dikocok sampai tercampur rata. lalu masukkan pisang yang sudah dilumatkan.
  4. Campur tepung terigu, baking powder dan soda kue, ayak. Lalu masukkan ke dalam campuran susu coklat, aduk perlahan hingga rata.
  5. Tuang ke dalam loyang bundar diameter 20 cm lalu kukus selama kurang lebih 45 menit hingga matang (lakukan test dengan tusuk gigi/lidi). Angkat. Biarkan dingin baru dikeluarkan dari dalam loyang.
  6. Untuk toppingnya, potong-potong Dark cooking chocolate, tim hingga lumer, tuangkan diatas brownies kukus yang telah matang, Potong-potong kue dan sajikan.

TIPS: waktu mengukus, tutup kukusan sebaiknya dilapisi dengan serbet/kain bersih, agar uap air tidak jatuh dan membasahi adonan yang sedang dikukus

Kisah dibalik “sukses”nya bikin resep ini… Behind The Recipe…:-)

Kenapa pake pisang tanduk…? begini ceritanya:

waktu itu hari minggu, seperti biasa…sebagai umat nasrani yang baik…walah…:-) kami sekeluarga hari itu ke gereja untuk menghadiri misa di Gereja Betlehem Kuala Kencana..(lengkap ya informasinya..hehehehe). misa berlangsung dari pukul 7 sampai kira-kira pukul setengah sembilan pagi. nah, selesai misa, seperti biasa ibu-ibu pun bergegas (termasuk diriku…walaupun kadang gak merasa jadi ibu) ke bagian samping gereja yang lazim digunakan seorang oma/nenek yang cukup renta, untuk berjualan sekedarnya. biasanya ada sayur mayur, pisang, kerupuk atau buah lain. dan kali itu, ada pisang tanduk. “Ini berapa, oma?” tanyaku sambil mengangkat satu kantong pisang tanduk. “Hmmmm… sepuluh ribu” jawab oma itu setelah beberapa saat meneliti isi kantong dengan seksama, maklum pandangannya agak kabur, jadi sebelum menntukan harga, biasanya si oma memang selalu memeriksa dulu barang yang ditawar pembelinya.

akhirnya si pisang tandukpun ikut kami pulang ke rumah. sampai di rumah, sang pisang tak langsung dimasak…bahkan sempat terlupakan selama beberapa hari…(karena waktu dibeli, masih belum terlalu tua, jadi kupikir, disimpan dulu aja). setelah menanti beberapa hari, sang pisang akhirnya masuk ke dalam dandang untuk dikukus. tadunya kupikir dengan dikukus begitu, anak-anak dan papanya udah doyan… karena mereka biasanya suka banget sama pisang… (bukan turunan monkey lhoo…tapi bisa jadi, kalau teori Charles Darwin benar…hehehehe)

ternyata eh ternyata perkiraanku meleset, si papa cuma ngambil satu potong, Chiara…? boro-boro… baru ngeliat bentuknya aja dia udah memalingkan muka…sementara Revo.. yang jagonya pisang, cuma sempat makan sedikiiit, terus dilepehin… waduh… kalau begini caranya masak aku yang harus ngabisin pisang satu kresek itu…wah, berabe nih… kalau digoreng, berminyak banget sementara anak-anak dan papanya lagi radang tenggorokan (walaupun gak parah)

dan akhirnya setalah cukup lama berkontemplasi sambil mnatap sang pisang dalam-dalam… akupun mendapat “pencerahant”.. hmmmm… lagi kepingin makan brownies nih… kemarin dah buka-buka internet nyari resep brownies kukus (kenapa yang kukus? karena sementara ini belum punya alat pemanggang roti). trus, di rumah ada banyak pisang… bagaimana kalau dibikin brownies aja…kalaupun harus aku yang ngabisin sendiri aku kan sengsara-sengsara amat malah kebetulan… secara I am brownies lover gitchuuu…

nah setelah memodifikasi beberapa resep brownies yang aku punya… ditambah dengan sedikit keberanian, segenggam keyakinan dan segenap rasa cinta pada anak-anak dan misua…ceilah…jadilah camilan ini : Brownies Kukus Pisang Tanduk.. yang rasanya legit, teksturnya lembut banget… pokoke Top markotop deh kalau katanya Pak Bondan. dan yang penting, misua doyan, anak-anak antusias nyobain… trus apalagi yang dicari…:-)

kalau sudah begini, serasa bahagia banget… serasa dunia milik sendiri… yang lain ngontrak…! hehehehe…

semoga kebahagiaan kecilku ini, juga bisa menjadi kebahagiaan buat anda yang mencoba resep ini…

selamat menikmati hidup…!

 

 

 

 

 

 

 

 



et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.