Punya mama











{September 18, 2008}   Negeri Atas Awan (Part 1)

Sejauh mata memandang, yang terpampang di jendela oval itu hanya awan putih dalam beragam bentuknya. Seputih kapas, tampak lembut bagai menari ditingkahi deru mesin pesawat yang sudah hampir 1/4 jam ini bagai mengalun di telingaku. Kuperhatikan Chiara mulai berkutat dengan pensil warna dan buku gambar yang diberikan seorang pramugari cantik beberapa menit yang lalu, sementara si kecil Revo bergelung pulas dipangkuanku, memandang wajahnya yang damai dihiasi rambut ikalnya yang lucu betul-betul menjadi hiburan tersendiri mengatasi rasa bosan yang mulai bergayut di dada ini. Disebelah kiriku, Chiara’s grandma (yang notabene adalah mamaku) sibuk membolak-balik katalog beragam produk yang dijual di Pesawat yang memiliki logo burung kebanggaan Indonesia itu, maklum sudah jadi kebiasaan mamaku untuk shopping di udara, selain barangnya bagus-bagus, unik pula… begitu kilah mama jika kutanya tentang hobby nya yang satu ini. Iya sih, bagus dan unik… lha wong mahaaalll… batinku dalam hati sambil tersenyum. Tapi lumayanlah karena pasti ada saja barang yang dibelikan sang grandma untuk cucunya tercinta…

 

Penerbangan ini membutuhkan waktu 45 menit, waktu yang singkat dibandingkan dengan waktu 8 jam yang harus kutempuh 1 setengah bulan yang lalu. Saat itu rencananya aku dan kedua anakku hanya sekedar berlibur, tidak ada rencana untuk menetap. Sejak akhir tahun 2006 keluarga kecilku memang terpisah jarak ribuan kilometer. Bagaimana tidak, sang kepala keluarga yang adalah papanya Chiara & Revo (ya iyalah… emang papanya siapa lagi…?) harus meninggalkan kami di Depok demi menghidupi kami sekeluarga (wuuiihhhh… sedih bgt kata-katanya…). Dengan jatah cuti 2 minggu yang hanya bisa diambil setiap 3 bulan sekali, awalnya sungguh sangat berat buat kami (btw, masih untung 3 bulanan… orangl lain ada yang 6 bulan sekali lho….). tetapi lama kelamaan kami mulai terbiasa. Hanya saja bila melihat Chiara yang berteriak-teriak memanggil papanya setiap kali ada pesawat melintas di angkasa, hati ini bagai teriris. Tetapi kala itu pendidikan yang bagus buat kedua buah hatikulah yang menjadi pertimbangan aku dan suami ketika memutuskan untuk tinggal berjauhan seperti itu. Sampai suatu saat mama dan papaku datang ke Depok dan menawariku untuk liburan di tempatnya.

 

Sudah 2 tahun ini kedua orangtuaku tinggal di Jayapura karena tugas negara yang menuntut demikian (Ceilaaaah….). Terhitung masih dalam satu propinsi dengan lokasi tempat papa Chiara bertugas. Wah, pikir-pikir kapan lagi bisa jalan-jalan ke Papua, mumpung eyangnya Chiara lagi di sana dan belum pindah, setelah itu bisa sekalian nengok papanya Chiara di Timika….begitu pemikiran awalku. Akhirnya dengan persiapan untuk liburan, kamipun berangkat disertai kedua orangtuaku yang memang harus balik lagi ke Jayapura (lumayankan… bayangkan jika aku harus pergi sendiri dengan 2 bocah kecil ini…wah, nggak kebayang repotnya…). Jakarta –Jayapura sungguh penerbangan yang panjang, untung anak-anak gak rewel, sehingga jadi perjalanan saat itu betul-betul menyenangkan, bahkan si revo dengan pulasnya tertidur hingga pesawat tiba di Bandara Sentani Jayapura.

 

Di bandar udara ini pula kami disambut sebuah spanduk besar mencolok mata bertuliskan : KONDOM JAGA PAPUA, (wah-wah… spanduk itu betul-betul menggelitik pikiran dan perasaanku… bayangkan bagaimana peran besar si…. Untuk menjaga suatu kawasan yang sedemikian luas ini…ternyata penjagaan tidak diserahkan kepada tentara atau Polisi… ya,ya… bukan secara harafiah sih maksudnya…Cuma tetap saja hati ini geli). Jayapura, kota yang unik terletak di pinggir laut, dengan kontur tanah yang tidak rata alias bergunung-gunung. Aku jadi ingat komentar Chiara ketika sesaat setelah keluar dari bandara eyangnya berkata “Itu gunung, Chiara…” sambil menunjuk sebuah gunung yang menjulang di depan mata…Chiara terlihat takjub, oh…. Itu yang namanya gunung, eyang…. Tinggi sekali ya… banyak pohonnya lagi…” maklum anak mall, gak biasa lihat gunung, jadi heran…

 

Selama 40 hari selanjutnya kami tinggal di Dok 9 Base G Komplek Pengadilan Tinggi Jayapura, dan terbiasa menggunakan  sarana angkutan umum seharga 3000 perak untuk menjelajah kota Jayapura. Jika dilihat dari jauh, kota ini menyerupai kapal laut yang besar, apalagi bila malam tiba, cahaya lampu kelap-kelip, sungguh indah dipandang mata. Rumah-rumah penduduk dibangun mengitari gunung-gunung dan setiap kawasan dinamai Dok layaknya anjungan kapal laut yang bertingkat. Hanya saja tata kota dan kebersihan amat sangat tidak diperhatikan di kota yang berhawa cukup menyengat ini. Tumpukan sampah dan ludah merah bekas pinang seakan jadi barang lazim di sini. Pembangunan rumah-rumah pendudukpun terkesan tidak beraturan dan tak sedap dipandang mata. Sungguh merupakan hal yang patut disayangkan mengingat kondisi alam yang demikian indah dan mengesankan. Di kota ini tak ada satupun tempat wisata alam yang memadai. Satu-satunya tempat yang bisa dijadikan tempat rekreasi hanya pinggir pantai di depan Kantor Gubernur, yang setiap sore penuh sesak dengan masyarakat yang seakan haus akan hiburan. Sebetulnya pantainya cukup indah , namun sayang karena tak terurus, sampah berserakan dan tak ada fasilitas yang penunjang seperti toilet umum yang lazimnya ada di tempat umum semacam itu. Ketika kubertanya pada mama dimana lagi kami bisa menikmati pantai yang indah, beliau berkata di kota ini sebenarnya dikelilingi banyak pantai-pantai indah, hanya saja Pemerintah seperti lepas tangan dalam pengelolaannya, masyarakat yang tinggal di sekitar pantai itu akan semena-mena menarik uang dari wisatawan yang datang seolah-olah pantai itu milik mereka, dan tak tanggung-tanggung bisa ratusan ribu yang keluar dari kantong hanya untuk memandang lautan dari pinggir pantai, oleh karena itu satu-satunya pantai yang ramai dikunjungi orang hanya pantai di depan kantor gubernur itu, karena gratis.

 

Selama di Jayapura pula aku menemukan suasana keluarga yang kukira selama ini kupunya ternyata tidak. Kehadiran kedua orangtua yang lengkap seakan membuka mataku akan pentingnya arti berada dekat dengan anak-anak terutama di masa pertumbuhan mereka. Dan pintu hatikupun terbuka, jika selama ini yang kurisaukan adalah masalah pendidikan bagi kedua anakku jika mereka besar di Papua, maka saat ini itu bukan lagi masalah rasanya…karena berarti kami sebagai orangtua juga harus lebih smart untuk mengatasinya, dan  berdua kurasa kami bisa menjalaninya. Yah, kalau dipikir-pikir kapanlagi kami bisa punya waktu berkumpul bersama anak-anak kalau tidak sekarang disaat mereka memang betul-betul membutuhkan kehadiran kedua ortunya, kelak jika mereka telah berenjak dewasa, pastinya akan menjalani kehidupan masing-masing bukan? Di Jayapura pula layaknya wisata rohani bagiku, keraguanku diteguhkan dan semangatku sebagai orangtua serasa diperbarui. Akhirnya dengan tekad bulat kuputuskan untuk berkumpul sebagai keluarga kembali, tidak di Depok, tetapi di Timika.

 

Keputusanku yang tiba-tiba jelas membuat suami terkesima, jika selama ini aku gigih menolak ikut dengannya ke Timika, sekarang balik aku yang maju tak gentar ingin kumpul bersamanya. Tapi sebelum itu semua terwujud, kami harus menyelesaikan liburan ini dulu dan kemudian kembali ke Depok untuk membuat persiapan kepindahan kami. Membayangkan tinggal di Papua, selama ini…. Gak deh! Tempat suamikupun hanya pernah kulihat dari gambar dan foto yang dikirimkannya. Dan sekarang baru akan kuhadapi. Saat ini pesawat akan siap mendarat  di Bandara udara Moses Kilangin – Timika, di kiri kanan kulihat dataran hijau membentang dengan kelokan-kelokan sungai yang menyerupai ular  yang semakin lama semakin terlihat jelas. Wah… tak bisa kubayangkan, aku akan tinggal di tengah hutan seperti itu…. Hmmmm…

 

Kuala Kencana, tempat yang akan kutinggali, berjarak kurang lebih setengah jam perjalanan dari Bandara Moses Kilangin. Dengan pintu masuk yang berlapis dijaga para Security, sempat juga membuatku terperangah. Kotanya sangat sepi (tentu saja jika dibandingkan dengan Depok yang macetnya dimana-mana), kota ini lengang dengan jalan-jalan lebar yang dilengkapi jalan buat pengendara sepeda…pokoknya kayak bukan di Indonesia deh…tak kenal kemacetan, tak ada kebut-kebutan di jalan, tak ada angkot ngetem sembarangan, pokoknya semua serba tertib…(heran juga di Indonesia ada daerah seperti ini). Kuala Kencana telah membuatku jatuh hati, setidaknya hingga saat ini. Dan ketika kamipun harus kembali ke Depok untuk menyelesaikan urusan kepindahan kami, seakan kota ini memanggil kami untuk segera kembali. Jadi, di kota kecil inilah kami mulai menata kembali hidup kami bersama-sama; sebagai suami-istri, sebagai orangtua, dan tentu saja sebagai keluarga.



et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.