Namaku BENEDICTA CHIARA DOROTHEA.
Aku lahir di RS. FATMAWATI, Jakarta Selatan; Minggu, 5 Desember 2004, pukul 14.40 WIB.
Dokter yang membantu proses kelahiranku: dr. Setyo (seharusnya, namun berhubung beliau harus operasi cesar di tempat lain, jadi digantikan oleh 2 orang dokter jaga yang cantik-cantik!)
Dokter yang merawatku: dr. Dody, SpA
Rekam medisku: Berat: 3100 gr
Panjang: 47 cm
Mau tahu bagaimana proses kelahiranku? begini ceritanya…
Tengah malam menjelang tanggal 5 Desember 2005, mama mulai merasakan sakit di bagian perutnya. Setiap satu jam sekali, rasa sakit itu muncul. Kata mama, rasanya seperti terserang diare. Pada jam 03.00 WIB dini hari, mama sudah nggak tahan pingin ke kamar kecil… eh.. malah BAB alias Buang Air Besar… tapi BAB nya seperti orang yang kena Diare karena encer… ketika itu papaku masih tenang-tenang saja, begitupun mama. Eh, paginya sekitar jam 06.30 WIB rasa sakit mama makin hebat, kali ini datang setiap lima menit sekali.. rasanya seperti orang datang bulan, kata mama. Pada waktu itu, Eyang Utiku dari Cilacap menelpon. Saat menerima telpon, mama sempat mengerang kesakitan, mungkin karena gerakanku ya? kontan saja eyang Uti menyuruh mama segera ke dokter. Jam 08.30 WIB papa dan mamaku berangkat ke Rumah Sakit dengan tujuan memeriksakan keadaan mama., sebab mama masih yakin kalau dirinya kena Diare. Menurut perkiraan dokter, kelahiranku masih sekitar satu minggu lagi, sehingga mama dan papa dengan pe-de nya berangkat ke Rumah Sakit tanpa berbekal pakaian yang sebenarnya sudah dipersiapkan di tas.
Begitu sampai di RS. Fatmawati dengan Taxi, papa langsung mendaftar di bagian ruang bersalin, karena hari itu hari Minggu, maka poli kebidanan tutup, dokter kandungan tentunya hanya ada di ruang bersalin. Setelah mendaftar, mama kemudian dipersilakan masuk ruangan. Kata dokter jaga di situ, mama mau diobservasi. Masuklah mama ke ruangan yang berisi empat tempat tidur itu. Pada saat itu telah ada dua orang ibu yang juga tengah menanti kelahiran bayi mereka sambil sesekali mengerang menahan sakit. Tak lama kemudian, mama pun diperiksa oleh seorang dokter perempuan. Menurut dokter itu, kondisi mama saat itu sudah bukaan satu. Karena untuk persalinan normal dibutuhkan sampai bukaan sepuluh, mama disarankan untuk berjalan-jalan sebab menurut perkiraan dokter, aku akan lahir baru sore nanti menjelang malam. Pada saat itu, mama akhirnya benar-banar yakin kalau saat itu memang waktu kelahiranku. Papapun kemudian menelpon om Rio di Rumah untuk datang ke Rumah Sakit membawa baju-baju mama dan juga perlengkapanku. Tak sampai satu jam kemudian, sakit yang dilami mama makin hebat. Rupanya ruang observasi itu juga merupakan ruang bersalin untuk kelas II dan III, karena merasa kurang nyaman papa akhirnya memindahkan mama ke ruang bersalin kelas I yang berkapasitas untuk dua orang. Di ruangan itu, rasa sakit mama terus bertambah, sampai teriak-teriak segala… papa bilang, papa sampai malu. Tapi mau bagaimana lagi… maklum, mama orangnya emang nggak tahan sakit! Malahan si papa sempat kena semprot mama, gara-gara tertawa waktu mendengar tangisan bayi yang baru lahir dari ruang sebelah… Dasar mama…
Detik-detik persalinanku pun makin dekat. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin menghirup udara luar dan merasakan hangatnya sinar matahari.. akibat desakan dan doronganku yang makin kuat, mama makin kuat pula menjeritnya! Padahal sudah dinasehati dokter berkali-kali untuk tidak teriak-teriak supaya nggak cepet capek, eh.. si mama tetap bandel! Abis, sakit sih… gitu kata mama.
Akhirnya tepat pukul 14.40 WIB aku nongol juga! Tangisanku kuat sekali… ketika diletakkan di dada mama, mama dan papa begitu bahagia, katanya mereka serasa tak percaya melihatku yang begitu mungil dan manis ini… Halo, mama… papa… ini aku datang! Selamat datang sayang! Bisik mama di telingaku.