Punya mama











{April 2, 2008}   Antara Aku dan Dua Malaikat Kecilku

Punya dua orang anak di usia yg relative masih muda merupakan suatu anugerah tersendiri buatku pribadi. Ketika ada beberapa orang kawanku yang saat ini sangat mendambakan kehadiran anak di tengah bahtera perkawinannya. Tuhan telah mempercayakan 2 mahluk mungil ini untuk kuasuh.

Semasa sekolah hingga kuliah dulu, tak pernah terbayang bagaimana rasanya punya sebuah keluarga dengan seorang suami dan anak-anak yang
menghiasi hari-hariku. Hidup bagiku seperti air mengalir. Lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana, tentu menjadi kebanggaan buat ayah dan bunda. Mencari kerja tentu menjadi prioritas utama. Namun, sepertinya takdirku berkata lain, baru beberapa saat mencicipi dunia kerja, perkawinan merupakan
pilihanku selanjutnya. Semua seperti mengalir begitu saja. Pada awalnya, papaku tampak tak setuju…maklum orangtua, mungkin ada sedikit ketidakrelaan, karena saat itu aku baru saja memulai berkarir. Tetapi mama, mendukung pilihanku. Dan pada Januari 2004 akupun resmi menyandang gelar tambahan disamping Sarjana Hukum, yaitu Ny. Hananto.

3 bulan kemudian, aku mengandung anak pertama kami yang kini berusia 3 tahun, Chiara-panggilan kami untuknya. Ketika usia Chiara 9 bulan, aku memutuskan masuk ke dunia kerja lagi, dan syukurlah aku diterima bekerja di sebuah Kantor Hukum. Selama 1 tahun lebih aku merasakan capeknya jadi wanita karir. Berangkat pagi-pagi berlomba dengan sang mentari,mengumpat pada sopir angkot yg jalannya lelet (gak tahu kalau penumpangnya dah kesiangan), berebut naik kopaja 63 yang sesaknya minta ampun! Belum lagi mesti menahan diri untuk tidak emosi kala mendapati kelakuan “aneh” para segelintir penumpang pria yg mengumbar syahwatnya di tengah sesaknya penumpang… ugh, itu yang paling menjijikkan sekaligus mengesalkan. Hal yg sama pun berlaku saat jam pulang kantor, benar-benar capek di jalan…

Alhasil, setelah anak keduaku- Revo lahir, kuputuskan untuk menjalani kehidupan yang lebih tenang, dengan menjadi ibu rumah tangga. Mengingat anakku sudah dua geetooo, rasanya kasihan meninggalkan mereka apalagi di saat-saat masa pertumbuhannya. Aku telah banyak kehilangan moment berharga saat meninggalkan Chiara untuk bekerja, aku tak ingin hal yang sama di alami Revo juga.

Puji Tuhan, hingga saat ini Chiara dan Revo tumbuh normal (semoga begitu juga seterusnya). Walaupun lahir dari rahim yang sama, ternyata mereka memiliki karakter yang berbeda. Kuamati, Chiara memiliki pribadi yang periang, keras kepala, dan tidak sabaran. Geraknya sangat lincah, atraktif dan ekspresif dalam menyampaikan sesuatu. Sejak sudah bisa merangkak, hingga saat ini sudah mahir bernyanyi tentunya, tak terhitung lagi berapa kali dia jatuh, terbentur, benjol, lecet bahkan melepuh (kena knalpot motor) akibat kelincahannya itu. Kekeras kepalaannya itu yang terkadang membuatku kehilangan kesabaran (habis anak & mama sama-sama keras kepala!). teriakan dan tangisnya bisa bikin naik tensi darahku. Kalau amarahku sudah memuncak, nada bicarakupun meninggi (mungkin sampai 3 oktaf). Chiara biasanya jadi sangat takut kalau melihat aku marah. Dengan cepat dia akan merajuk… “maaf ya, ma… mama jangan marah donk… Chiara takut kalau mama marah..”sambil menarik-narik tanganku atau ujung bajuku. Nah, sebaliknya aku yang jadi keki, udah kadung tinggi tuh emosi… kan susah diturunin lagi… tapi melihat sorot matanya yang polos seperti itu, hati yang bekupun bisa langsung cair kali… tapi, aku seringkali gengsi untuk segera menurunkan emosi… yah… mamanya juga keras kepala sih… .

Pernah suatu kali karena tak tahan dengan kenakalannya, tanganku mencubit paha Chiara, dia menangis kencang…hati ini terasa teriris, namun sudah terlanjur kulakukan. Kalau sudah begitu, tinggal penyesalanku yang datang karena telah tak sadar menyakiti tubuh mungilnya. Jika sudah tenang kembali, aku pun memluk Chiara, kukatakan bahwa aku tak bermaksud menyakitinya, kujelaskan bahwa tindakannya tidak benar dan akupun minta maaf karena telah khilaf mencubitnya. Biasanya Chiara akan dengan senang hati mendengarkan penjelasanku dan sebagai gantinya dia juga meminta maaf atas kelakuannya yang membuatku tak berkenan. Dan kamipun berpelukan…

Namun sekarang, Chiara lebih pandai mengatur emosinya. Akupun sangat menghargai usahanya itu. Jika ia berhasil menguasai diri, acapkali dia berujar : “Aku pinter kan ma, gak nakal…aku sayang mama, aku sayang adek juga…” ucapnya sambil memeluk dan mencium pipiku, “Iya… anak mama pintar” ujarku terharu.

Sedangkan sang adik- Revo walaupun masih berusia 1 tahun, jika dibandingkan Chiara; terlihat lebih tenang, lebih sabar dan hati-hati. Di tahun pertamanya ini, sangat jarang ia terjatuh, Revo sangat berhati-hati ketika belajar merangkak, bahkan belajar berjalan. Dari bayi, anakku yang satu ini sangat jarang menangis, kecuali jika ia merasa sangat kesakitan, atau kecewa tidak kuperhatikan. Kalau berebut mainan dengan kakaknya, terlihat dia lebih banyak mengalah, tanpa tangisan. Kalau Chiara dulu saat usia 1 tahun sudah berani melangkah dan berjalan sendiri, berbeda halnya dengan Revo. Di usianya saat ini, dia hanya mau berjalan jika digandeng, begitu pegangan kita terlepas darinya dia akan langsung mengambil ancang-ancang merangkak.

Kuamati akhir-akhir ini Revo sudah mulai berani merangkak menerobos bawah meja atau bawah kursi, bandingkan dengan Chiara yang sudah mulai “mbrobos” (bahasa jawanya) seperti itu segera setelah ia bisa merangkak di usia 8 bulan. Namun begitu, Revo ternyata punya kontak mata yang begitu kuat dengan orang sekitarnya. Setiap kali diajak bercanda oleh orang yang tidak dikenalnya sekalipun, dia akan segera meresponnya dengan mengajak ber-ciluk ba…siapa yang tidak gemes kalau begitu…  saking responsifnya, pernah suatu kali dia diajak foto bareng oleh salah seorang staf marketing di sebuah counter pusat perbelanjaan, untuk kenang-kenangan-katanya.

Dari beberapa literature yang kubaca, banyak disebutkan bahwa periode emas perkembangan otak anak terjadi pada tiga tahun pertamanya. Dan saat ini sedang kubuktikan. Berbekal pengalamanku dengan Chiara, ternyata pada usia ini, daya serap kemampuan otak si kecil benar-benar mengagumkan. Oleh karena itu, aku berusaha semampuku (dengan dukungan suami tentunya) untuk terus mengasah, mengasuh dan mengasihi kedua malaikat kecilku ini, dengan satu tujuan : agar kelak mereka bisa menjadi orang yang berguna, bukan hanya untuk diri mereka sendiri tetapi juga untuk orang lain. Ya, Tuhan, bantu aku mewujudkannya… AMIN.

Advertisement


Sara says:

“Semasa sekolah hingga kuliah dulu, tak pernah terbayang bagaimana rasanya punya sebuah keluarga dengan seorang suami dan anak-anak yang
menghiasi hari-hariku.”
–> emang ngebayanginnya sama berapa suami, mba? hehehe…



dewi says:

tau ga sih mbak… waktu mbak memutuskan married diusia yang sangat muda… n baru aja lulus kuliah… kupingku tuch sampe pengang dinasehati sana sini biar ga married to young… yang paling keingetan tuch nasehat bude suster… pas lagi makan tiba2 dia bilang “wi ojo kesusu yach” (OMG… scr pacar aja belom punya… mana kepikiran gitu married hehehe)…whatever lah yach… kalo dah jodoh mah… go for it aja haha…

yang pasti mah… aku salut mbak sama keputusanmu buat ber-rumah tangga di usia muda… well emang kalo dah ketemu the right man at the right time mo diapain yach… kalo ga disamber ntar menghilang hahaha…

sekarang mah dah bisa terbilang sukses yach… ada suami n anak2 tercinta hehe…

doakan yach… semoga aku bisa dapet juga hahaha…
mo nyari ke negeri seberang neh…start from january 2009 I’ll sail my new journey at the new place in a far far away country…
biar chiara n revo bisa punya uncle hehe… (penasaran? tunggu tanggal maennya haha…gaya pisan…)



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.