Punya mama











Akhir-akhir ini, kedua anakku sedang menggandrungi film yang merupakan salah satu karya Dreamwork dan karya skript perdana Jerry Seinfeld. Setiap hari, yang namanya itu film pasti disetel…Eh, lama kelamaan mamanya ikut terpengaruh jadi penggemar juga deh… Judul filmnya : Bee Movie. Kalau mau lihat synopsisnya, gampang kok… klik aja Official site nya di : www.beemovie.com

Karena ini adalah film yang full animasi, maka semua tokoh nya animasi, namun tentu pengisi suara menjadi salah satu daya tarik film ini. Well, mereka cukup terkenal dan punya jam terbang tinggi di dunia entertainment Negara Paman Sam sana lho…, sebut saja Jerry Seinfeld, Renée Zellweger, Matthew Broderick, John Goodman, Chris Rock… hmm, pasti menjanjikan jaminan mutu bukan? Didukung pula oleh actor dan actress lain seperti Kathy Bates, Patrick Warburton, Barry Levinson, Megan Mullally, Larry Miller, dan Rip Torn.

beemovie1.jpg

Secara ide cerita, film ini menurutku luar biasa. Aku sangat kagum dengan Jerry Seinfeld yang selama ini kita kenal bermain dalam serial Seinfeld (saat ini sudah habis masa tayangnya). Sebagai penulis naskah, Si mas Jerry ini benar-benar punya selera humor yang kocak abiss. Ditunjang dengan animasi yang benar-benar mengagumkan dari Dream work, sangat halus dan detil dalam setiap adegan.. Salut untuk yang mengerjakannya.

Bee Movie benar-benar menjadi tontonan yang menarik, menghibur dan sekaligus mendidik untuk orang dewasa dan anak-anak, sangat tepat untuk menjadi tontonan keluarga yang bisa memberikan kesegaran tersendiri. Jalinan cerita, serta dialog-dialognya sungguh sangat cerdas, menghibur, dan menggelitik…salah satu contohnya adalah ketika pada akhir cerita digambarkan Barry sang tokoh utama kemudian memilih berprofesi sebagai pengacara khusus masalah binatang. Dalam adegan terakhir itu, Barry harus meninggalkan seekor Clientnya -seekor sapi betina yg juga merasa terzalimi oleh manusia. Begitu Barry terbang keluar ruangan, masuklah seekor Nyamuk-Moose Blood (Chris Rock) berjas serta berdasi yang menggantikannya untuk mendengar pengaduan sang client. Melihat seekor nyamuk yang muncul, sang Sapi-client bertanya dengan nada heran: “Are you a lawyer too?”, dan Blood pun menjawab santai : “Hi..mam, I am already a blood sucking parasite, now all I need is a brief case” katanya sambil mengangkat koper coklatnya…mengena ya? (No heart feeling buat para pengacara lho ya?). ada lagi kalimat yang membuatku terkesan, yaitu ucapan sang guide tour di hexagon yang kemudian diulang kembali oleh Barry saat berada di dalam kockpit pesawat, yaitu : “Every small jobs if you done well, means a lot”. Brilliant! Just a simple line, but means a lot for a mother like me… don’t you agree, guys?

Pingin lebih tahu cerita lengkapnya? Makanya nonton… kalau masih belum sempat dan sekedar mau baca sinopsinya, berikut kutipan asli dari official site Bee Movie :
“From creator Jerry Seinfeld comes “Bee Movie,” a comedy that will change everything you thought you knew about bees. Take a close look at the world through the eyes of one bee in particular – Barry B. Benson (Jerry Seinfeld). A recent college graduate, Barry wants more out of life than the inevitable career that awaits him and every other worker in New Hive City – a job at Honex… making honey. Barry jumps at the chance to venture out of the hive, and soon encounters a world beyond his wildest dreams. When Barry inadvertently meets a quirky florist named Vanessa (Renée Zellweger), he breaks one of the cardinal rules of beedom – he talks to her. A friendship soon develops, and Barry gets a guided crash course in the ways of the human race. When he shockingly discovers that anyone can purchase honey right off the grocery store shelf, he realizes that his true calling is to stop this injustice and set the world right by suing the human race for stealing the bees’ precious honey.”
Oh, iya… si Revo kalau nonton ini pasti akan menangis keras melihat adegan si Barry yang berada di pundak Vannesa, dipukul dengan gulungan majalah oleh seorang penjaga toko swalayan. Alhasil sebelum adegan itu, ia pasti sudah gelisah (saking seringnya film ini diputar, dia jadi hafal kapan saat adegan itu terjadi)… untuk menenangkan Revo, ia pasti kupeluk dan matanya kututup saat adegan berlagsung, setelah adegan menegangkan itu selesai dan berlanjut ke adegan lain, diapun akan segera melepaskan pelukan dariku dan kembali menonton dengan riang. Ada-ada saja….! Ternyata, selain punya daya ingat yang cukup tajam, anakku ini ternyata juga berhati lembut… ya iyalah..anak siapa dulu geethoo! hehehe…



{April 2, 2008}   Arti Namaku (Chiara)

gbr10.jpg

Ketika aku lahir, papa dan mama telah menyiapkan nama itu untukku. Seringkali orang berkata: “Apalah arti sebuah nama…”, namun bagi orang yang percaya, nama itu bukan hanya sekedar nama tanpa makna…

NAMA adalah DOA.

Namaku diambil dari tiga nama orang kudus,

Yang pertama; BENEDICTA (merupakan nama babtisku)

Benedicta merupakan salah satu ragam untuk perempuan dari kata BENEDICT, yang dalam bahasa Latin artinya, “Terberkati”.

Orang kudus yang menggunakan nama ini adalah St. BENEDICT atau St. BENEDICTUS (480 – 550).

St. Benedict adalah bapa dari bentuk khusus yang kita kenal di barat – Peraturan Benedict, yang masih sangat berpengaruh di dalam gereja saat ini. Para rahib dan rubiah hidup, bekerja dan berdoa di rumah – rumah biara, sambil menghidupkan tradisi belajar, kesenian, dan keramahan. Benedict adalah orang Italy, lahir dari orangtua bangsawan dan mempunyai saudari kembar yang juga digelari orang kudus, bernama Scholastica. Biaranya sendiri didirikan di Monte Cassino tahun 547. Terlepas dari kebijaksanaan dan sikap moderatnya, Benedict juga dikenal sebagai penyembuh hebat dan perantara Allah untuk membangkitkan orang mati.

Hari pesta: 11 Juli

Lambang-lambang: bola api, gagak dan poci; tanaman berduri dan mawar; cangkir pecah dengan seekor ular di buku; biara di pegunungan.

Santo pelindung: para arsitek, para petani, para rahib, dan eropa.

Yang kedua; CHIARA

Chiara merupakan ragam untuk perempuan dari CLARE, yang dalam bahasa Latin berarti “Terang”.

Orang kudus yang menggunakan nama ini adalah St. Clare atau St. Clara.

St. Clare lahir di Asisi, Italia, mempermalukan keluarganya yang kaya (seperti pernah dilakukan Fransiskus) dengan menjalankan imannnya terlalu serius dan meninggalkan keluarga untuk hidup bersama Fransiskus, teman-teman rahib Fransiskus dan “ratu kemiskinan” demi cinta kepada Tuhan. Tentu saja peri hidup Fransiscan yang bebas di jalan tidak cocok bagi seorang wanita jaman itu, dan Clare harus puas dengan memimpin ordonya sendiri, Tarekat Wanita Miskin dalam gereja San Damiano dengan anggaran dasar yang ditulis St. Fransiskus. Meskipun ia dan suster-susternya tidak bisa bepergian dengan Fransiskus, mereka ambil bagian dalam devosi Fransiskus kepada Kristus dan terus mempertahankan hidup amat sangat miskin. Mereka merenda pakaian gereja dan linen dan menyerahkan kehidupan terkurung mereka kepada doa. Clare sendiri dicintai para susternya seperti Fransiskus dicintai para pengikutnya. Kesederhanaan Fransiscan tidak pernah memberatkan orang lain, tetapi tampaknya telah memberi kebebasan dan kegembiraan kepada setiap orang yang berani menjalankannya.

Hari pesta: 12 Agustus

Lambang-lambang: piala dan hosti; sebuah salib besar; monstrans; lili; siborium.

Santa pelindung: tukang renda dan mereka yang mengalami masalah mata; juga televisi – baik, karena namanya berarti “cahaya” maupun karena pada suatu perayaan natal ia diberi penampakan kandang Betlehem.

Yang ketiga; DOROTHEA

Dorothea merupakan salah satu ragam untuk perempuan dari kata DOROTHY yang berarti; “Hadiah dari Allah”.

Orang kudus yang menggunakan nama ini adalah St. Dorothy.

St. Dorothy merupakan martir dari masa pengejaran Diocletian. Ia adalah seorang pahlawan wanita Kristen yang romantis. Riwayatnya menceritakan bahwa ia seorang gadis jelita dari Cappadocia (Turki) yang dihukum mati. Ketika ia sedang digiring ke tempat hukuman mati, seorang pengacara, Theophilus mencemooh dia dengan meminta agar mengirim buah-buahan dan kembang dari kebun surgawi. Sesudah Dorothy mati, seorang anak muncul di hadapan Theophilus dengan sekeranjang bunga mawar dan buah apel seraya menambahkan dengan mengancam; bahwa Dorothy menunggunya di kebun. Theophilus bertobat dan tak lama kemudian juga dihukum mati.

Hari pesta: 6 Februari

Lambang-lambang: seorang malaikat dengan keranjang apel dan mawar; pedang; mahkota.

Santa pelindung: tukang kembang dan tukang kebun.
(disadur dari buku “Saints Names for Your Baby”

Secara harafiah arti namaku adalah Hadiah dari Allah, yang terberkati dan diharapkan menjadi terang bagi sekitarku… semoga…AMIN.
Teladan yang patut kucontoh dari ketiga orang kudus tersebut adalah:
B e l a j a r
K e s e n i a n
K e r a m a h a n
B i j a k s a n a
S e d e r h a n a
M e n c i n t a i
P a h l a w a n
R o m a n t i s
J e l i t a



{April 2, 2008}   Arti Namaku (Revo)

my-first-smile.jpg

I. At The First Time…

Halo sayang…
Kahadiranmu sungguh sanggat kami nantikan. Apalagi kakakmu Benedicta Chiara Dorothea alias Chiara yang baru saja merayakan ultahnya yang ke-2. tanggal 5 Desember 2006 yang lalu. Dengan suaranya yang nyaring dan masih sedikit cadel, kak Chiara sudah seringkali menyapa dan memanggilmu “Adek!” sambil mengelus, mencium bahkan tak jarang pula memeluk perut mama, tempatmu meringkuk dengan nyaman selama 9 bulan ini. Oh, iya kak Chiara bahkan punya nama panggilan untukmu, ketika ditanya adiknya bernama siapa, dia menjawab dengan lantang : “Adek Pius…” Lucunya lagi, sekarang kak Chiara punya kebiasaan baru yaitu suka sekali mandi pagi bersama mama. Kalau sudah begitu, setiap kali memegang shower, ia akan selalu menyemprotkannya ke perut mama sambil berkata : “Adek juga ikut mandi ya…?”

Boleh dibilang selama mengandungmu dalam rahim ini, tidak terlalu merepotkan. Morning sickness yang lazimnya dialami para wanita hamil, hampir tak pernah mama rasakan, mual dan muntah bisa dihitung dengan jari, seingat mama sih cuma 2 kali. Berbeda dengan kakakmu Chiara yang ngidamnya Bakmi ayam depan Bioskop Megaria Cikini, kali ini ngidammu agak international taste gitu…. Yaitu Bakmi Italy alias Spagheti dan Pizza…hmm, yummy!

Di triwulan pertama sampai kedua kehamilan, “mood” mama jadi jelek banget, suka marah-marah tanpa sebab dan cepat naik darah alias ambekan. Menginjak triwulan ketiga (7 bulan), lumayan udah lebih sabar dan happy, Cuma nafsu makan jadi gede banget… rasanya nggak pernah kenyang nih perut! Laper melulu…apa aja doyan, tapi bukan sembarang makan lho… doyannya makan makanan enak!! Repotnya, ukuran enak itu Cuma mama yang tahu… (papa aja sempat agak kesal kalau sudah mama kelaperan, tapi nggak tahu mau makan apa)… hehehe…

Cuma yang agak menyedihkan, sejak tanggal 11 Desember 2006, papa sudah tidak tinggal bersama kita lagi, karena tugas papa di freeport yang mengharuskannya kembali ke Papua… sedih juga sih, yah…mau bagaimana lagi… tapi semoga kita cepat berkumpul lagi, ya… kita berdoa saja… tapi jangan khawatir, di rumah masih ramai kok, selain ada mama dan kak Chiara, juga masih ada om Resta dan om Rio yang bersama kita.

Selama ini, mama selalu memeriksakan kehamilan di RS Hermina Depok, dengan pertimbangan selain fasilitasnya lengkap, letaknya juga cukup dekat dari Rumah, jadi kalau tiba saat persalinan, nggak terlalu repot. Semula mama periksa ke Dr. Muthia, mama pikir karena pasiennya banyak pasti dia dokter yang bagus donk…setelah 2 kali perksa ke Dr. Muthia, mama merasa kurang sreg dengan pelayanan dokter itu, selain karena ngantrinya lama berhubung pasiennya banyak, serasa nggak “worthed” dengan lama konsultasinya yang tak sampai 5 menit karena dokternya nggak komunikatif dan cenderung tak peduli. Akhirnya atas rekomendasi Tante Retno (tetangga depan rumah), mama pindah konsul ke Dr. FXA. Bhimantoro yang mama akui lebih ramah dan perhatian serta suka memberikan penjelasan yang berarti.

Ketika usiamu 18 minggu dalam kandungan, melalui USG, Dr. Bhima menyatakan kalau jenis kelaminmu laki-laki… wah, papa dan mama senang sekali! Sebelum ini pun kakakmu Chiara kalau ditanya mau adik cewek atau cowok, dia selalu bilang adik Cowok!, mungkin keinginannya didengar Tuhan ya? Pada dasarnya sih, mama nggak terlalu mempersoalkan apa jenis kelaminmu, yang pentng bisa lahir dengan sehat dan selamatserta tumbuh menjadi anak yang sehat pula. Kalau papa, kayaknya memang pingin punya anak cowok, biar lengkap punya sepasang cewek dan cowok, gitu…

Selama hamil, mama tetap bekerja seperti biasa, pulang kantor dijemput papa ber’motorcycle’ ria. Mama udah tanya ke Dr. Bhima soal yang satu ini, katanya sih nggak masalah asalkan nggak terkena goncangan yang fatal… alhasil, setiap kali akan melintasi Poldur alias Polisi tidur, apalagi yang tidurnya sekeluarga…papa selalu teriak : “angkat pantat!!”. Mama lebih suka dibonceng papa naik motor, karena kalau naik Kopaja 63, macetnya itu lho… nggak tahan! Tapi sejak papa kembali ke papua, kembali pula mama ke habitus lama bermacet ria bersama Kopaja 63…hehehe..

Oh, iya… saat usia kehamilan berumur sekitar 34 minggu, lewat usg ketahuan kalau letakmu sungsang alias kepala di atas dan bokong di bawah… wah, sempat khawatir juga! Dr. Bhima menyarankan agar mama ikut senam hamil biar diajarin posisi “nungging” untuk membuat posisimu kembali normal… alhasil setelah 2 minggu kemudian dengan 2 kali ikut senam plus setiap pagi dan sore praktek “nungging” di rumah…akhirnya posisimu pun kembali normal yaitu kepala udah di bawah…tetapi, saat minggu terakhir, yakni saat periksa terakhir ke Dr. Bhima, ternyata dari hasil pemeriksaan, kamu muter lagi ke atas ya, sayang? alhasil karena saat itu air ketuban nya juga tinggal setengah, ditambah ada mekonium di ususmu, terpaksa deh kamu lahir lewat operasi cesar.

II. It’s not just a Name

Seperti halnya untuk kakakkmu Chiara, mempersiapkan nama buatmu, bukan perkara mudah. Pasalnya mama dan papa ingin namamu, selain menjadi bagian dari identitasmu, juga mengandung arti dan makna yang baik. Nama itu adalah doa yang menjadi sebuah harapan kami buatmu.

Mengingat nama ini akan terus melekat dan dipakai sepanjang perjalanan hidupmu, maka mempersiapkannya pun tidak bisa main-main. Mulai dari membaca buku-buku tentang nama-nama bayi, sampai browsing internet telah kami lakoni demi mendapatkan seuntai nama yang tak hanya indah tetapi juga bermakna buatmu. Setelah melalui riset yang memakan waktu kurang lebih sebulan, kami pun sepakat menghadiahkan seuntai nama ini buatmu :

VINCENTIUS XAVIANREVO NAYOTTAMA

ARTI NAMAMU:

VINCENTIUS
Secara harafiah, nama Vincentius berasal dari bahasa Latin, yang berarti : Sang Penakluk. Dalam sebuah buku berjudul : ……….. Vincentius bermakna : kekuatan melalui iman. Hal ini dicerminkan dalam sebuah ayat Kitab Suci, yaitu Matius 9 :29.
Nama ini juga yang akan menjadi nama babtismu. Diambil dari nama Santo Vincentius Ferreri, yang penggalan kisahnya adalah sebagai berikut:

Santo Vincentius Ferreri, Pengaku Iman

gbr7.jpg

Dirayakan setiap tanggal 5 April
Santo Vincentius Ferreri dikenal sebagai pembuat mujizat, wartawan hari kiamat dan pentobat orang-orang berdosa. Ia lahir pada tanggal 23 Januari 1350 di Valensia, Spanyol. Ferreri adalah seorang anak yang dikaruniai rahmat istimewa. Pada usia 14 tahun, ia telah menyelesaikan pendidikan awalnya dalam bidang filsafat di Valensia. Pada usia 17 tahun, Ferreri diterima dalam ordo Dominikan dan dikirim ke Barcelona, Spanyol pada tahun berikutnya. Setelah beberapa lama ia mengajar filsafat di Lerdia., Spanyol, ia kembali ke Barcelona pada tahun 1373.

Setelah lama belajar di Toulouse, Prancis, kepribadian dan cara hidup Ferreri menarik hati Kardinal Pedro de Luna (yang kemudian menjadi Paus Benediktus XIII pada tahun 1394-1423 di Avignon) ketika terjadi skisma besar di kalangan Gereja Barat. Pada tahun 1379, Luna mengangkat Ferreri sebagai pembantunya untuk menangani persoalan kepausan di Avignon. Ketika Kardinal Luna dipilih menjadi paus, Ferreri menjadi penasehat dan bapa pengakuan pribadi paus di Avignon. Ia menolak penunjukan atas dirinya menjadi seorang kardinal dan pemimpin beberapa kantor Gereja karena ia lebih suka berkarya sebagai seorang misionaris di antara umat. Kira-kira pada tahun 1398, ia diserang demam yang membahayakan. Ketika itu, ia mengalami penampakan Yesus bersama Santo Dominikus dan Fransiskus Asisi. Dalam penglihatan itu, Yesus memerintahkan dia untuk mewartakan Injil di antara bangsa-bangsa. Setelah penampakan ini, Ferreri sendiri kembali dan bersiap diri melaksanakan perintah Yesus.

Selama 20 tahun, Ferreri mengelilingi Spanyol, Italia, Jerman dan Switzerland untuk mewartakan Injil bagi pertobatan orang-orang berdosa. Khotbahnya salalu dilaksanakan di luar gereja karena ruangan katedral tidak bisa menampung jumlah umat yang hadir. Ia berhasil membawa kembali orang-orang berdosa ke jalan yang benar di setiap negara yang dikunjunginya. Tuhan menganugerahkan kepadanya kemampuan berbahasa sehingga khotbahnya dapat dimengerti oleh para pendengarnya yang berbahasa lain, bahkan oleh para petani sederhana sekalipun.

Sekali peristiwa, dalam khotbahnya ia meramalkan bahwa Bernardinus dari Siena, seorang hadirin yang turut mendengar khotbahnya ketika itu, kelak akan dihormati Gereja sebagai seorang santo. Juga kepada Alphonso Borja, Ferreri mengatakan bahwa ia akan menggelarkan Santo kepada Ferreri ketika ia menjabat sebagai Paus. Ramalan-ramalan ini kemudian terpenuhi setelah Ferreri meninggal.

Proses penyelidikan terhadap Ferreri dilakukan. Setelah 873 mujizat diperiksa dan dinyatakan benar, maka panitia penyelidik menghentikan pekerjaannya. Mujizat terbesar ialah cara hidupnya yang keras penuh dengan doa, matiraga dan tapa, tetapi tetap bersemangat dalam melakmnakan tugasnya sebagai pewarta. Vincentius Ferreri meninggal dunia di Vannes, Inggris, pada tanggal 5 April 1419.

(disadur sesuai aslinya dari buku: ‘Orang Kudus sepanjang Tahun’, oleh: Mgr. Nicolaas Martinus Schneiders, CICM, disunting oleh: Drs. Michael Benyamin Mali, Penerbit OBOR, cetakan ke-VII, bulan Mei 2004. Gambar dari website: www.indocell.net/yesaya/id12.htm)
[Direktori Katolik Indonesia] – http://dikai.org

Papa mama berharap agar dengan menggunakan nama babtis Santo Vincentius sebagai Santo Pelindungmu, dirimu bisa belajar banyak dari pengalaman kudusnya, dan membuat hidupmu menjadi lebih hidup dan berarti tak hanya bagi dirimu tetapi juga bagi orang-orang di sekitarmu, AMIN.

XAVIANREVO
Xavian, berasal dari bahasa Arab, yang artinya : Cerdas. Nama inipun bermakna : Allah bijaksana, sebagaimana tersirat dalam Amsal 2: 10-11. Sedangkan Revo, merupakan nama panggilan pilihan mama yang diambil dari kata Revolusi, yang berarti : Perubahan (karena di saat-saat kelahiranmu, hidup kita sekeluarga sedang mengalami perubahan, semoga dengan kehadiranmu… perubahan yang ada merupakan perubahan yang dikehendaki Allah sehingga dapat membawa kita ke arah yang lebih baik)

NAYOTTAMA
Nayottama… Nama ini mama temukan dalam sebuah buku tentang nama-nama bayi. Berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya : kebijaksanaan yang utama (Bahasa Sansekerta dipilih, karena kata papa muatan lokal alias local contain namamu kok gak ada… nah, demi mengakomodir keinginan adanya Local contain tersebut, maka nama ini dipilihkan untukmu… )

Dengan menyatukan penggalan tiga nama tersebut, papa dan mama berharap akan menjadikan seuntai nama indah buatmu yang bermakna :

Laki-laki cerdas
Dan memiliki kekuatan iman
untuk membuat perubahan yang bijaksana

AMIN, semoga Tuhan merestui dan memberkati.



Punya dua orang anak di usia yg relative masih muda merupakan suatu anugerah tersendiri buatku pribadi. Ketika ada beberapa orang kawanku yang saat ini sangat mendambakan kehadiran anak di tengah bahtera perkawinannya. Tuhan telah mempercayakan 2 mahluk mungil ini untuk kuasuh.

Semasa sekolah hingga kuliah dulu, tak pernah terbayang bagaimana rasanya punya sebuah keluarga dengan seorang suami dan anak-anak yang
menghiasi hari-hariku. Hidup bagiku seperti air mengalir. Lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana, tentu menjadi kebanggaan buat ayah dan bunda. Mencari kerja tentu menjadi prioritas utama. Namun, sepertinya takdirku berkata lain, baru beberapa saat mencicipi dunia kerja, perkawinan merupakan
pilihanku selanjutnya. Semua seperti mengalir begitu saja. Pada awalnya, papaku tampak tak setuju…maklum orangtua, mungkin ada sedikit ketidakrelaan, karena saat itu aku baru saja memulai berkarir. Tetapi mama, mendukung pilihanku. Dan pada Januari 2004 akupun resmi menyandang gelar tambahan disamping Sarjana Hukum, yaitu Ny. Hananto.

3 bulan kemudian, aku mengandung anak pertama kami yang kini berusia 3 tahun, Chiara-panggilan kami untuknya. Ketika usia Chiara 9 bulan, aku memutuskan masuk ke dunia kerja lagi, dan syukurlah aku diterima bekerja di sebuah Kantor Hukum. Selama 1 tahun lebih aku merasakan capeknya jadi wanita karir. Berangkat pagi-pagi berlomba dengan sang mentari,mengumpat pada sopir angkot yg jalannya lelet (gak tahu kalau penumpangnya dah kesiangan), berebut naik kopaja 63 yang sesaknya minta ampun! Belum lagi mesti menahan diri untuk tidak emosi kala mendapati kelakuan “aneh” para segelintir penumpang pria yg mengumbar syahwatnya di tengah sesaknya penumpang… ugh, itu yang paling menjijikkan sekaligus mengesalkan. Hal yg sama pun berlaku saat jam pulang kantor, benar-benar capek di jalan…

Alhasil, setelah anak keduaku- Revo lahir, kuputuskan untuk menjalani kehidupan yang lebih tenang, dengan menjadi ibu rumah tangga. Mengingat anakku sudah dua geetooo, rasanya kasihan meninggalkan mereka apalagi di saat-saat masa pertumbuhannya. Aku telah banyak kehilangan moment berharga saat meninggalkan Chiara untuk bekerja, aku tak ingin hal yang sama di alami Revo juga.

Puji Tuhan, hingga saat ini Chiara dan Revo tumbuh normal (semoga begitu juga seterusnya). Walaupun lahir dari rahim yang sama, ternyata mereka memiliki karakter yang berbeda. Kuamati, Chiara memiliki pribadi yang periang, keras kepala, dan tidak sabaran. Geraknya sangat lincah, atraktif dan ekspresif dalam menyampaikan sesuatu. Sejak sudah bisa merangkak, hingga saat ini sudah mahir bernyanyi tentunya, tak terhitung lagi berapa kali dia jatuh, terbentur, benjol, lecet bahkan melepuh (kena knalpot motor) akibat kelincahannya itu. Kekeras kepalaannya itu yang terkadang membuatku kehilangan kesabaran (habis anak & mama sama-sama keras kepala!). teriakan dan tangisnya bisa bikin naik tensi darahku. Kalau amarahku sudah memuncak, nada bicarakupun meninggi (mungkin sampai 3 oktaf). Chiara biasanya jadi sangat takut kalau melihat aku marah. Dengan cepat dia akan merajuk… “maaf ya, ma… mama jangan marah donk… Chiara takut kalau mama marah..”sambil menarik-narik tanganku atau ujung bajuku. Nah, sebaliknya aku yang jadi keki, udah kadung tinggi tuh emosi… kan susah diturunin lagi… tapi melihat sorot matanya yang polos seperti itu, hati yang bekupun bisa langsung cair kali… tapi, aku seringkali gengsi untuk segera menurunkan emosi… yah… mamanya juga keras kepala sih… .

Pernah suatu kali karena tak tahan dengan kenakalannya, tanganku mencubit paha Chiara, dia menangis kencang…hati ini terasa teriris, namun sudah terlanjur kulakukan. Kalau sudah begitu, tinggal penyesalanku yang datang karena telah tak sadar menyakiti tubuh mungilnya. Jika sudah tenang kembali, aku pun memluk Chiara, kukatakan bahwa aku tak bermaksud menyakitinya, kujelaskan bahwa tindakannya tidak benar dan akupun minta maaf karena telah khilaf mencubitnya. Biasanya Chiara akan dengan senang hati mendengarkan penjelasanku dan sebagai gantinya dia juga meminta maaf atas kelakuannya yang membuatku tak berkenan. Dan kamipun berpelukan…

Namun sekarang, Chiara lebih pandai mengatur emosinya. Akupun sangat menghargai usahanya itu. Jika ia berhasil menguasai diri, acapkali dia berujar : “Aku pinter kan ma, gak nakal…aku sayang mama, aku sayang adek juga…” ucapnya sambil memeluk dan mencium pipiku, “Iya… anak mama pintar” ujarku terharu.

Sedangkan sang adik- Revo walaupun masih berusia 1 tahun, jika dibandingkan Chiara; terlihat lebih tenang, lebih sabar dan hati-hati. Di tahun pertamanya ini, sangat jarang ia terjatuh, Revo sangat berhati-hati ketika belajar merangkak, bahkan belajar berjalan. Dari bayi, anakku yang satu ini sangat jarang menangis, kecuali jika ia merasa sangat kesakitan, atau kecewa tidak kuperhatikan. Kalau berebut mainan dengan kakaknya, terlihat dia lebih banyak mengalah, tanpa tangisan. Kalau Chiara dulu saat usia 1 tahun sudah berani melangkah dan berjalan sendiri, berbeda halnya dengan Revo. Di usianya saat ini, dia hanya mau berjalan jika digandeng, begitu pegangan kita terlepas darinya dia akan langsung mengambil ancang-ancang merangkak.

Kuamati akhir-akhir ini Revo sudah mulai berani merangkak menerobos bawah meja atau bawah kursi, bandingkan dengan Chiara yang sudah mulai “mbrobos” (bahasa jawanya) seperti itu segera setelah ia bisa merangkak di usia 8 bulan. Namun begitu, Revo ternyata punya kontak mata yang begitu kuat dengan orang sekitarnya. Setiap kali diajak bercanda oleh orang yang tidak dikenalnya sekalipun, dia akan segera meresponnya dengan mengajak ber-ciluk ba…siapa yang tidak gemes kalau begitu…  saking responsifnya, pernah suatu kali dia diajak foto bareng oleh salah seorang staf marketing di sebuah counter pusat perbelanjaan, untuk kenang-kenangan-katanya.

Dari beberapa literature yang kubaca, banyak disebutkan bahwa periode emas perkembangan otak anak terjadi pada tiga tahun pertamanya. Dan saat ini sedang kubuktikan. Berbekal pengalamanku dengan Chiara, ternyata pada usia ini, daya serap kemampuan otak si kecil benar-benar mengagumkan. Oleh karena itu, aku berusaha semampuku (dengan dukungan suami tentunya) untuk terus mengasah, mengasuh dan mengasihi kedua malaikat kecilku ini, dengan satu tujuan : agar kelak mereka bisa menjadi orang yang berguna, bukan hanya untuk diri mereka sendiri tetapi juga untuk orang lain. Ya, Tuhan, bantu aku mewujudkannya… AMIN.



{April 2, 2008}   Papa, mama… ini aku datang!

Namaku BENEDICTA CHIARA DOROTHEA.
Aku lahir di RS. FATMAWATI, Jakarta Selatan; Minggu, 5 Desember 2004, pukul 14.40 WIB.
Dokter yang membantu proses kelahiranku: dr. Setyo (seharusnya, namun berhubung beliau harus operasi cesar di tempat lain, jadi digantikan oleh 2 orang dokter jaga yang cantik-cantik!)
Dokter yang merawatku: dr. Dody, SpA
Rekam medisku: Berat: 3100 gr
Panjang: 47 cm

Mau tahu bagaimana proses kelahiranku? begini ceritanya…

Tengah malam menjelang tanggal 5 Desember 2005, mama mulai merasakan sakit di bagian perutnya. Setiap satu jam sekali, rasa sakit itu muncul. Kata mama, rasanya seperti terserang diare. Pada jam 03.00 WIB dini hari, mama sudah nggak tahan pingin ke kamar kecil… eh.. malah BAB alias Buang Air Besar… tapi BAB nya seperti orang yang kena Diare karena encer… ketika itu papaku masih tenang-tenang saja, begitupun mama. Eh, paginya sekitar jam 06.30 WIB rasa sakit mama makin hebat, kali ini datang setiap lima menit sekali.. rasanya seperti orang datang bulan, kata mama. Pada waktu itu, Eyang Utiku dari Cilacap menelpon. Saat menerima telpon, mama sempat mengerang kesakitan, mungkin karena gerakanku ya?  kontan saja eyang Uti menyuruh mama segera ke dokter. Jam 08.30 WIB papa dan mamaku berangkat ke Rumah Sakit dengan tujuan memeriksakan keadaan mama., sebab mama masih yakin kalau dirinya kena Diare. Menurut perkiraan dokter, kelahiranku masih sekitar satu minggu lagi, sehingga mama dan papa dengan pe-de nya berangkat ke Rumah Sakit tanpa berbekal pakaian yang sebenarnya sudah dipersiapkan di tas.

Begitu sampai di RS. Fatmawati dengan Taxi, papa langsung mendaftar di bagian ruang bersalin, karena hari itu hari Minggu, maka poli kebidanan tutup, dokter kandungan tentunya hanya ada di ruang bersalin. Setelah mendaftar, mama kemudian dipersilakan masuk ruangan. Kata dokter jaga di situ, mama mau diobservasi. Masuklah mama ke ruangan yang berisi empat tempat tidur itu. Pada saat itu telah ada dua orang ibu yang juga tengah menanti kelahiran bayi mereka sambil sesekali mengerang menahan sakit. Tak lama kemudian, mama pun diperiksa oleh seorang dokter perempuan. Menurut dokter itu, kondisi mama saat itu sudah bukaan satu. Karena untuk persalinan normal dibutuhkan sampai bukaan sepuluh, mama disarankan untuk berjalan-jalan sebab menurut perkiraan dokter, aku akan lahir baru sore nanti menjelang malam. Pada saat itu, mama akhirnya benar-banar yakin kalau saat itu memang waktu kelahiranku. Papapun kemudian menelpon om Rio di Rumah untuk datang ke Rumah Sakit membawa baju-baju mama dan juga perlengkapanku. Tak sampai satu jam kemudian, sakit yang dilami mama makin hebat. Rupanya ruang observasi itu juga merupakan ruang bersalin untuk kelas II dan III, karena merasa kurang nyaman papa akhirnya memindahkan mama ke ruang bersalin kelas I yang berkapasitas untuk dua orang. Di ruangan itu, rasa sakit mama terus bertambah, sampai teriak-teriak segala…  papa bilang, papa sampai malu. Tapi mau bagaimana lagi… maklum, mama orangnya emang nggak tahan sakit! Malahan si papa sempat kena semprot mama, gara-gara tertawa waktu mendengar tangisan bayi yang baru lahir dari ruang sebelah… Dasar mama…

Detik-detik persalinanku pun makin dekat. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin menghirup udara luar dan merasakan hangatnya sinar matahari.. akibat desakan dan doronganku yang makin kuat, mama makin kuat pula menjeritnya! Padahal sudah dinasehati dokter berkali-kali untuk tidak teriak-teriak supaya nggak cepet capek, eh.. si mama tetap bandel! Abis, sakit sih… gitu kata mama.

Akhirnya tepat pukul 14.40 WIB aku nongol juga! Tangisanku kuat sekali… ketika diletakkan di dada mama, mama dan papa begitu bahagia, katanya mereka serasa tak percaya melihatku yang begitu mungil dan manis ini…  Halo, mama… papa… ini aku datang! Selamat datang sayang! Bisik mama di telingaku.



{April 2, 2008}   Edu games-nya Chiara

Melihatnya sedang beraktivitas seperti saat ini, sungguh suatu pemandangan yang menggelitik sekaligus mengagumkan. Rambut super ikalnya yang kecoklatan, dan mata bundarnya yang menatap serius setiap kelebat animasi yang terpampang di flat screen 17” computer milik omnya. Tangan kecilnya bergerak lincah memainkan mouse di sebelah kanan, sambil sesekali berteriak girang ketika terdengar suara “you’re great” atau “excellent” sebagai tanda keberhasilannya menyelesaikan permainan.

Di usianya yang menginjak 3 tahun ini, Chiara putri kecilku bisa dikatakan sudah “melek” computer. Bagaimana tidak, kalau setiap hari dia melihat omnya yang kebetulan hobby berat membuat animasi (sekarang dah jadi animator), betah berjam-jam bahkan seharian di depan computer. Saat usianya 1 tahun, Chiara sudah bisa memegang mouse dan memencet tombol-tombol di keyboarad layaknya orang dewasa, sambil berlagak meniru aktivitas omnya itu. Coba tengok gayanya ini…

di-usia-sekitar-1-tahun-sudah-melek-komputer.jpg

Melihat minatnya yang begitu besar pada computer, dan agar dia lebih terarah aku pun mulai berpikir untuk mencari software computer khusus untuk anak. Awalnya, aku bertanya pada Mr. Yudith-guru play group Chiara, software apa yang kira-kira cocok untuk Chiara. Waktu itu, Mr. Yudith menyarankan software Jump start. selain berbahasa Inggris, software itu juga di design untuk mengembangkan kemampuan anak seusia Chiara. Sayangnya beliau tidak tahu dimana membeli produk aslinya. Karena itu dia menyarankan membeli yang bajakan saja. Untuk itu, tinggal cari saja di ITC depok lt. 3. Berbekal informasi tersebut, akupun dengan semangat 45 menuju lokasi dimaksud. Walah…ternyata beragam software untuk anak dijual di situ dengan harga yang miring: Rp. 25.000 per keping. Saking bingungnya memilih-milih, aku malah tidak jadi membeli “Jump start” tetapi memilih software lain yang menurutku sesuai dengan Chiara mengingat usia dan kategorinya masih pemula banget gitu…

Software yang kubeli berisi permainan menyusun Puzzle ( Puzzle merupakan salah satu mainan Favorit Chiara sejak dia bisa memegang benda). Dugaanku ternyata tidak meleset, begitu Chiara mencobanya di rumah, dia sangat antusias dengan permainan barunya itu. 5 menit pertama dia berhasil menguasai permainan itu. Tak sampai seminggu diapun mahir. Kalau sebelumnya dia masih belum bisa mengarahkan krusor, sekarang dia sudah mahir bahkan menyalakan dan mematikan computer sendiri dia sudah bisa. Sayangnya, karena software yang kubeli bajakan, seringkali di tengah-tengah permainan computer tiba-tiba hang… wah, kalau sudah begini kasihan Chiara… dia pasti be-te. Berbekal pengalaman dengan software bajakan ini, aku pun mulai hunting software lagi, kali ini harus beli yang asli! Demikian tekadku.

Setelah sekian lama mencari, akhirnya pilihanku jatuh pada Edu games Boby Bola. Karakter utama permainan ini, Boby Bola sebenarnya sudah cukup familiar buat aku apalagi Chiara, karena film serinya diputar di Space Toon yang punya slogan : Saluran Masa Depan: saluran Favorit Chiara. Jika dibandingkan dengan Dora The explorer, versi film Boby Bola memang kalah jauh, dari segi cerita maupun animasinya. Dan kupikir itu hal itu berlaku juga bagi versi software komputernya. Oleh karena itu, pada awalnya aku tidak tertarik untuk membeli atau bahkan sekedar mampir ke counter Boby Bola yang kutahu ada di Margo City Depok. Ternyata, dugaanku ini keliru. Suatu ketika, di sela-sela waktu shopping di Margo City, aku melihat kerumunan anak dan orangtua di depan Counter Boby Bola… Hmmm, tak seperti biasanya, pikirku. Aku pun menggandeng Chiara mendekati kerumunan. Ternyata para bocah tadi (usianya lebih tua dari Chiara) sedang asyik bermain Boby Bola di 3 buah computer yang disediakan di situ. Wah, melihat mereka, tentu saja Chiara tak mau ketinggalan. Setelah mendapat giliran, akhirnya Chiara pun mencoba memainkannya dan yang membuatku takjub, ternyata dia bisa. Senang sekali melihat ekspresi wajahnya setiap kali ia berhasil memainkan sesuatu. Akhirnya kuputuskan untuk membeli. Software pertama yang kubeli adalah Boby Bola di Rumah Ajaib 1. Harganya lumayan mahal jika dibandingkan dengan yang bajakan, aku harus merogoh kocek Rp. 98.000, tetapi karena ini asli maka kualitas pun lebih terjamin. Ada masa garansi 30 hari setelah pembelian lhoo..

Serial Rumah Ajaib ini di design untuk anak usia 2-5 tahun dengan dua pilihan bahasa pengantar, bahasa Indonesia dan Inggris. Berisi selusin permainan yang menarik, didukung dengan animasi dan design grafis yang cukup menarik buat anak-anak. Permainan yang ada di dalamnya cukup kreatif, inovatif dan atraktif sehingga Chiara sangat senang memainkannya. Mulai dari Maze, Puzzle Abjad, Gunting & temple, Ketok monster, menyanyi dan menari, music panda, kereta api, mengenal huruf dan angka, kartu memori dan lainnya membuat Chiara belajar sambil bermain, benar-benar menyenangkan. Dibandingkan dengan serial filmya yang tayang di televise, seri edu games Boby Bola ini ternyata lebih bagus, kuakui itu!

Tak cukup satu ternyata, sekarang setiap kali ke Margo city, Chiara pasti mengajak ke counter Boby Bola, untungnya dia bukan type anak yang suka merengek minta dibelikan. Aku pun menyadari kebutuhannya akan permainan edukatif itu. Di saat dia sudah menguasai semua permainan yang ditawarkan dalam Boby Bola di Rumah Ajaib 1, aku pun mulai berpikir untuk membelikannya Boby Bola seri lain lagi, pilihanku jatuh pada Boby Bola & Nano Si Boneka Serdadu. Kenapa Nano? Karena kulihat, Chiara mulai suka berhitung. Dengan versi Nano ini, keingintahuan Chiara akan angka pun mendapatkan arahannya. Dia suka sekali dengan versi baru ini. Namun sayang, kini si Nano sudah hilang, entah hilangnya dimana aku tak tahu, mungkin ketlisut… kata orang jawa. Alhasil Chiara pun merasa kehilangan juga. Untuk menghiburnya, kubelikan dia versi Boby Bola dan Putri Duyung. Permainan dalam software ini berbeda dengan Rumah Ajaib ataupun Nano, di design untuk anak usia 3 – 6 tahun, isinya sungguh menarik dan mendidik. Di awal permainan, Chiara harus membantu putri duyung yang terjebak di pasir dengan cara yang unik yaitu berhitung, untuk dapat ke tahap selanjutnya, dia harus menghitung dengan benar. Menurutku dalam versi ini, anak lebih banyak dikenalkan pada apa yang dimaksud dengan kontinuitas tetapi dengan cara yang menarik.

Ada yang mengatakan, kalau permainan soliter seperti komputer, cenderung menjadikan anak kuper, syukurlah tak demikian halnya dengan Chiara. Di samping gemar main dengan computer, Chiara juga sangat suka bermain dengan teman-teman. Bahkan bermain computer bisa juga menjadi sarana bersosialisasi dengan teman sebaya, Chiara sudah membuktikannya!

chiara-karrn.jpg



et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.