Punya mama











 Awalnya, keluarga kecil kami terpaksa hidup terpisah. Karena tuntutan tugas, suamiku yang biasa dipanggil papa oleh Chiara dan Revo, harus rela merantau ke tanah Papua. Tanah yang menjanjikan segenggam emas bagi yang mengharapnya dengan usaha dan kerja keras.

Berbeda dengan Revo yang belum begitu mengerti apa artinya berada jauh dari papa, Chiara rupanya menyimpan pengertian tersendiri atas ketidak hadiran papa dalam hari-harinya. Ia mulai paham apa artinya berpisah, berada jauh dari orang yang kita cintai. Jika sebelumnya ia bisa bermanja-manja dan bercanda bersama sang papa, kini hanya bisa mendengar suaranya saja via telepon. Untungnya Chiara anak yang periang, jadi ketidak hadiran papa di sisinya terlihat tak begitu banyak mempengaruhi aktifitasnya sehari-hari.

hanya saja jika kerinduannya memuncak, dia mengekspresikannya lewat beragam cara. mulai dari selalu bertanya tentang papanya…atau yg paling sering dilakukan adalah berteriak: : “Papa….Turuuuunnn…” jika ada pesawat terbang melintas di angkasa, hal ini bahkan sempat menarik perhatian Mr. Judith guru Playgroupnya yg menceritakan kepadaku bagaimana antusiasnya Chiara meneriakkan dua kata itu ketika saat jam sekolah adapesawat melintas di angkasa. tapi anehnya, Chiara tak pernah mau berbicara dg papanya ketika papanya menelepon.  kata seorang teman, mungkin itu salah satu bentuk kerinduannya…karena jika ia berbicara di telepon dg papanya yg berada jauh diseberang lautan sana…toh hanya suaranya yg terdengar, tapi ia tak dapat bersamanya…mungkin begitu pikir hati kecilnya…

Oleh karena itu, setiap 3 bulan sekali, jatah cuti papanya (selama 2 minggu) akan betul-betul dinikmati Chiara. Pokoknya dah kayak perangko dan lem deh Chiara dan papa…Chiara akan selalu menempel kemana pun papa melangkah…jika saat kedatangan papa, Chiara akan menyambutnya dengan riang gembira…maka saat harus melepas papa adalah saat yg terberat baginya.  Biasanya, si papa balik ke Papua dengan pesawat subuh…jadi otomatis Chiara masih tidur, tapi pada hari sebelumnya papa sudah memberitahu bahwa besok papa akan kembali ke papua, pernah kudengar pembicaran mereka berdua tentang ini, dan Chiara berkata ”Ndak usah…papa di sini saja, sama aku sama mama, sama adik..”, dan papanya menjawab “papa harus ke papua, buat kerja…cari uang buat sekolahnya Chiara, buat beli baju Chiara, buat beli mainan Chiara..ya..” kulihat Chiara tak berkata apa-apa…hanya memandang papanya dengan tatapan sejuta makna…duuh…pasti berat ya, buat anak seumur Chiara buat berpisah sementara dari papanya…

Suatu kali, kedua ortuku yang kebetulan bertugas di Jayapura balik ke rumah kami di Depok. kemudian mama mengajakku dan anak2ku untuk ikut bersama mereka ke Jayapura, anggap saja liburan mumpung mereka sedang tugas di Jayapura, jadi kami diajak ke sana. kuterima tawaran itu…kapan lagi bisa main ke Jayapura, kalau gak sekarang..begitu bujuk mamaku. akhirnya berangkatlah kami ke tempat tugas si eyangnya Chiara ini. rencananya nanti setelah dari Jayapura, sebelum balik ke Depok, kami akan mampir dulu ke Kuala Kencana-Timika tempat papanya Chiara.

Alhasil selama sebulan aku dan anak2 berada di kota tepi laut yang berbukit-bukit ini, Jayapura. Chiara dan Revo rupanya kerasan di sini…bahkan Revo pertama kali berjalan sendiri ya di rumah eyangnya yang di Jayapura ini…padahal sudah sejak usia 9 bulan anak laki-lakiku ini sudah kuat berdiri…tapi belum mau juga berjalan sendiri sampai usianya 1 tahun lebih waktu itu…ternyata di rumah eyangnya di Jayapura, dia berani untuk berjalan sendiri…ada maknanya kah ini…entahlah…mungkin hanya kebetulan juga…tapi di kota ini juga hatiku mantap memutuskan untuk tinggal bersama suamiku di Kuala Kencana-Timika. padahal boleh dibilang, sampai berbusa suamiku dulu mencoba membujukku untuk mengikutinya ke Kuala.

Jika sebelumnya aku kekeuh bertahan untuk tinggal terpisah…karena kupikir waktu itu, hidup di Papua yang terpencil pastinya akan menyengsarakan anak-anakku,  apalagi dari segi pendidikan. Kupikir kualitas pendidikan di daerah terpencil seperti itu pastinya akan kalah jauh jika dibanding di pulau Jawa. Aku sendiri pernah mengalaminya, semasa kecil dulu hidup kami sekeluarga selalu berpindah-pindah di daerah-daerah terpencil (karena papa seorang hakim) bahkan pernah sampai ke sebuah kota kecil bernama Gleno di Propinsi Timor-Timur yg waktu itu masih menjadi bagian wilayah NKRI (sekarang menjadi negara merdeka; Timor Leste). ketika aku akhirnya pindah ke Jawa, baru berasa sulit sekali mengejar ketertinggalanku. Aku ingat, kala itu aku kelas 2 SMP dan harus pindah dari Gleno ke Blitar. Harus berpisah dengan teman-teman yang begitu banyak memberikan kenangan bagiku, harus berpisah dengan sebuah kota kecil yg indah.  Saat-saat bersekolah di Blitar,  seringkali membuatku panas- dingin…bagaimana tidak…mengingat jauh sekali perbedaan kualitas pengajaran dengan di Gleno. Ya, iyalah…secara sarana dan fasilitas belajar mengajar di Jawa lebih memadai dibandingkan dengan daerah terpencil yg kutinggali sebelumnya.belum lagi kualitas guru dan murid-muridnya…Alhasil, dari yang biasanya rangking 1 di kelas, di Jawa ini aku harus puas dengan rangking 32 dari 44 siswa…coba bayangkan bagaimana perasaanku waktu itu…walaupun pelan-pelan aku bisa mengejar ketertinggalanku itu, tapi setidaknya aku tidak mau anak-anakku nantinya harus merasakan hal seperti yang aku alami itu.

Saat di Jayapura, ketakutan-ketakutanku itu sepertinya terjawab…secara tidak langsung selama sebulan berada si Jayapura aku mendapatkan “pencerahan” batin. Banyak kata-kata mama yang terus kurenungkan. “Gak usah khawatir soal pendidikan anak-anak. kalau memang di sana gak maju, lha kan ada kalian yang jadi orangtuanya. dua-duanya sarjana pula..ya buat apa seolah tinggi-tingi sampai sarjana kalau gak bisa mendidik anak…ya tho…ndak usah terlalu khawatir, anak-anak kan sekarang masih kecil, butuh asuhan kalian berdua…nanti kalau mereka sudah besar, mereka akan mencari jalannya sendiri-sendiri…berarti kesempatan kalian sebagai ortu untuk ngumpul bersama-sama mereka ya sekarang ini. coba lihat mama ini, akhirnya kan tinggal berdua sama papa lagi, anak-anak dah mencar sendiri-sendiri. Kamu sendiri kan dulu juga ngalami pernah tinggal di tempat yg pendidikannya gak maju, tapi buktinya kamu bisa masuk universitas negeri yang bagus, berarti kan gak kalah juga sama anak2 yang dari kecil sampai besarnya hidup di pulau Jawa…” Hmmm….dipikir-pikir, benar juga kata-kata mamaku itu ya…Yup! dan akhirnya keputusankupun bulat!

Mama dan papaku ikut mengantar kami ke Timika waktu itu, sewaktu di pesawat dan sudah mendekati Timika, mama memandang keluar jendela dan menitikkan air mata…mama menangis, “lho…kok nangis ma…katanya aku disuruh ikut suami ke sini…mama gak rela? tanyaku. “Bukan begitu…” kata mama disela derai airmatanya “Mama lihat hutan lebat di bawah sana, dan mama bersyukur sekali…ternyata Tuhan menempatkan anak-anak mama di tempat-tempat yang ndak mama kira sebelumnya, adikmu di Batam, kamu di sini…mama yakin Tuhan punya rencana yang indah untuk kita” Oh…terharu sekali aku mendengarnya…dan kami pun menangis bahagia bersama sambil berpelukan..ya, ma…Tuhan memang punya rencana indah untuk kita umat-Nya.

Dan tibalah kami di Kuala Kencana, begitu melihatnya pertama kali, kota ini sudah membuatku jatuh hati.  Jalan-jalan yang lebar dan lengang, berpagar pohon-pohon besar yang rindang, kota yang bersih dengan pemandangan memikat hati. Tak berapa lama menetap di kota kecil ini, sedikit demi sedikit aku mulai bisa  mengikuti irama geliat kehidupannya. Bertemu dengan teman-teman baru…menjalin persahabatan dengan orang-orang yang mengasyikan dengan beragam kegiatan yg semakin memperkaya kualitas pribadiku sebagai manusia dan sebagai sesama.  Jika kemudian akhir-akhir ini banyak kejadian yang membuat kami khawatir…tapi jika aku berkaca dan melihat pengalaman hidupku selama ini…akupun percaya : Tuhan pasti menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya.

"jungle" itu...



{November 18, 2008}   Agar-Agar Nanas

Hmmm… lagi punya nanas 2 biji beli hari minggu kemarin setelah misa di Gereja Betlehem, trus seperti biasa, bingung mau dibuat apa. mau dimakan gitu aja, terlalu asam buat lidah Chiara dan Revo, kalau mama-papanya sih doyan aja…

dan karena sejak kemarin masih punya camilan..brownies kukus, yang sekarang udah ludes dihabisin Chiara…maka baru sore ini si buah berwarna kuning tua ini, tersentuh juga olehku. dan karena Chiara doyan banget sama jelly yang biasa kubuat, aku bermaksud menjadikan nanas ini sebagai jelly… eh, sayang seribu sayang…setelah mengaduk-aduk tempat persediaan bahan-bahan makanan ternyata bahan si jelly gak ketemu alias udah habis… yang ada cuma sebungkus agar-agar warna hijau… ya sudahlah daripada ini nanas gak kemakan, bikin agar-agar aja deh… dengan harahap…eh, harap-harap cemas, takutnya si Chiara gak doyan karena tekstur jelly dan agar-agar itu agak-agak beda-beda tipis gitu…sang jelly kan lebih kenyal gimaaanaaa geetoo..sedang si agar-agar tahu sendiri donk kayak apa teksturnya, dan selama ini si Chiara emang lebih suka jelly dibanding agar-agar…:-)

Sim Salabim…dengan kebulatan tekad, akhirnya kukupas juga sang nanas (tapi cuma satu, yang satu disimpan dulu…), setelah bersih lalu kuparut dengan penuh perasaan sambil sedikit mengeluh meratapi blenderku yang rusak, semestinya ini nanas diblender aja kan lebih gampang…ya, sudahlah ternyata memarut juga tak memakan waktu lama bahkan bisa sekalian berolahraga “menguatkan otot lengan”. ngomong-ngomong tentang otot lengan, tadi sempat jadi bahan pembicaraan di kalangan ibu-ibu PG 2 yang menyebut diri “Genk Bocor” (PG 2 itu Playgroup 2, kelas Chiara) -kenapa kalau udah jadi ibu kok lengan gak bisa kecil malah semakin membesar saja… ya iyalah… lha wong segala pekerjaan rumah tangga membutuhkan otot-otot itu, disamping otot-otot lainnya tentu saja… :-)

dan kembali ke cerita sang nanas maka seperti yang telah ditakdirkan baginya, masuklah ia dalam kuali berisi bubuk agar-agar satu bungkus (warna hijau), air kurang lebih 700 ml,  dan gula pasir 6 sdm, terus diaduk sampai mendidih…cicip dikit… hmmm seger…rasanya manis, agak sedikit asam-asam khas nanas gitu… semoga anak-anak suka (doa sang ibu dalam setiap adukan, dalam setiap potongan, dalam setiap usaha kecil di dapur mungil)… dan setelah itu masukkan ke dalam cetakan…jreng…jreng…jadi deh…

sekarang tinggal nunggu dingin dan beku, tapi si Chiara yang baru bangun udah bolak-balik ke dapur nih… mungkin sekarang yang ketiga kalinya, buat negok sang agar-agar dalam cetakan mungil favoritnya…”Mama…! Jellynya udah keras belum…?!” “Aku lihat dulu ya…boleh…?!” wah, dia bilang jelly… code red nih…:-) ya, tapi sudahlah…berharap saja yang terbaik… :)



Hmmm, siang kemarin nemu ketela di Pakde (tukang sayur langganan)… jarang-jarang ada kayak beginian di sini…:-) “Ini tella manis mbak… kalau disimpan malah bisa lebih manis lagi…”promosi pakde menawarkan barang dagangannya. “sing setunggal niki sampun dipesen kalian tiyang mriku.. nah tinggal sing niku mawon (yang ini sudah dipesan orang, tinggal yang itu saja..red)” lanjut si Pakde lagi, ketika aku melihat-lihat dua kantong plastik hitam berisi ketela alias ubi rambat yang tergantung di ganggang sepedanya. “yo, wis pak… niki pinten?” (ya, sudah pak…ini berapa?) tanyaku, “Niku gangsal welas mawon…”jawabnya… waduh, sial nih…sok belagak bisa ngomong jawa, dan sekarang dijawab pake bahasa jawa, aku jadi bingung sendiri…gangsal welas tuh berapa ya…” pikirku dalam hati. melihat aku yang terbengong-bengong sendiri, eh… si pakde malah nyerocos terus dengan bahasa jawa halusnya…mati aku! pikirku, yang kutangkap cuma bahwa harga yang ditawarkan itu murah, itu harga modalnya aja.

maklum perbendaharaan bahasa jawaku terbatas, secara cuma numpang lahir doank di pulau Jawa, tapi besar dimana-mana..:-) setelah melewati beberapa menit permenungan yang “cukup” menguras “energi” akhirnya aku yakin kalau harga yang ditawarkan itu Rp. 15.000,00. ya sudahlah tanpa menawar lagi langsung kubayar…soalnya kalau pake nawar, ntar pake bahasa jawa lagi bisa mampus aku..hehehehe

rencana awal, ini ketela mau dikukus aja. kan udah manis… pasti enak. karena hanya untuk ngetes rasa, aku mengukus 4 ketela, sisanya masih ada 1 kantung keresek…masih bisalah buat-besok-besok lagi…pikirku. setelah matang dan dicoba, ternayata emang manis…tapi memang tak semanis ubi cilembu lah…ya, iyalah…ketela Papua gitu…:-)

tapi tampaknya si Chiara dan papanya kok gak antusias makan ketela kukus tadi, akhirnya putar otak lagi nih… trus ingat resep donat kentang dari mama, buka-buka…trus kepikiran, ini ketela hampir sama lah dengan kentang, sama-sama umbi juga. kalau Kentang bisa dibikin donat, ketela pastinya juga bisa donk… dan namanya juga bisa lebih keren.. DONAT”TELA”… mirip-mirip nama merk sepatu terkenal itu… Donatello ya…(pernah masuk ke counternya yang di Depok sekali…busyet! mahal bo’):-)

nah, akhirnya dengan sedikit modifikasi di sana-sini, jadi juga Donat”tela” ku. dan tester ku yang paling lihai soal makanan pun datang.. siapa lagi kalau bukan..jreng..jreng… Chiara!!! begitu donatnya matang, langsung 4 donat habis dalam waktu kurang dari setengah jam…:-) jadi, jangan ragu lagi… kalau Chiara udah doyan kayak begitu…berarti… yummy!!!! asli enak banget… malah kupikir lebih enak ini dari donat kentang…serius…! Cobain deh…

ini dia resepnya :

BAHAN :

  • 250 gr Ketela alias Ubi rambat (dikukus, lalu dihaluskan)
  • 10 sdm Gula pasir
  • 100 gr margarin
  • 2 kuning telur
  • 4 sdm susu bubuk
  • 1 sdt garam
  • 500 gr tepung terigu protein sedang
  • 250 ml air hangat
  • 1 bks fermipan

Cara Membuat :

  • gula, telur, garam aduk rata tambahkan air hangat, aduk sampai gula larut
  • masukkan fermipan, aduk terus, lalu masukkan ketela yang sudah dihaluskan, tambahkan tepung, susu, dan margarin.
  • uleni, hingga adonan tercampur rata dan tidak lengket (kalis)
  • diamkan selama kurang lebih 2 jam ditutup dengankain/serbet
  • jika adonan sudah mengembang, ambil adonan sedikit demi sedikit dan bentuk menjadi bentuk donat seperti yang diinginkan, lalu diamkan kembali, agar donat menembang kembali.
  • setelah itu, goreng dalam minyak panas, setelah kecokelatan angkat dan dinginkan
  • lalu hiasi sesuai selera, bisa digulingkan ke dalam gula halus, diberi keju, atau coklat… terserah anda…

selamat mencoba…!



{November 2, 2008}   Brownies Kukus Pisang Tanduk

Bahan :

 250 gr Pisang tanduk (yang tua) kukus, lumatkan
100 gr gula pasir halus
200 ml susu cair
200 gr mentega/margarin
6 sdm susu kental manis
50 gr coklat bubuk
150 gr tepung terigu
1 1/2 sdt baking powder
1 sdt soda kue
2 butir telur, kocok rata

Untuk Topping : 250 gr Dark cooking Chocolate 

Cara Membuat: 
  1. Dalam wajan masukkan gula, susu cair, mentega dan susu kental manis, masak di atas api kecil (jangan sampai mendidih) hingga gula larut dan mentega meleleh. Sisihkan.
  2. Tuangkan sedikit campuran susu ke dalam mangkuk kocok berisi coklat bubuk, aduk rata. Masukkan sisa campuran susu ke dalam campuran coklat tadi, aduk rata. Sisihkan. Biarkan dingin.
  3. Masukkan telur satu persatu sambil dikocok sampai tercampur rata. lalu masukkan pisang yang sudah dilumatkan.
  4. Campur tepung terigu, baking powder dan soda kue, ayak. Lalu masukkan ke dalam campuran susu coklat, aduk perlahan hingga rata.
  5. Tuang ke dalam loyang bundar diameter 20 cm lalu kukus selama kurang lebih 45 menit hingga matang (lakukan test dengan tusuk gigi/lidi). Angkat. Biarkan dingin baru dikeluarkan dari dalam loyang.
  6. Untuk toppingnya, potong-potong Dark cooking chocolate, tim hingga lumer, tuangkan diatas brownies kukus yang telah matang, Potong-potong kue dan sajikan.

TIPS: waktu mengukus, tutup kukusan sebaiknya dilapisi dengan serbet/kain bersih, agar uap air tidak jatuh dan membasahi adonan yang sedang dikukus

Kisah dibalik “sukses”nya bikin resep ini… Behind The Recipe…:-)

Kenapa pake pisang tanduk…? begini ceritanya:

waktu itu hari minggu, seperti biasa…sebagai umat nasrani yang baik…walah…:-) kami sekeluarga hari itu ke gereja untuk menghadiri misa di Gereja Betlehem Kuala Kencana..(lengkap ya informasinya..hehehehe). misa berlangsung dari pukul 7 sampai kira-kira pukul setengah sembilan pagi. nah, selesai misa, seperti biasa ibu-ibu pun bergegas (termasuk diriku…walaupun kadang gak merasa jadi ibu) ke bagian samping gereja yang lazim digunakan seorang oma/nenek yang cukup renta, untuk berjualan sekedarnya. biasanya ada sayur mayur, pisang, kerupuk atau buah lain. dan kali itu, ada pisang tanduk. “Ini berapa, oma?” tanyaku sambil mengangkat satu kantong pisang tanduk. “Hmmmm… sepuluh ribu” jawab oma itu setelah beberapa saat meneliti isi kantong dengan seksama, maklum pandangannya agak kabur, jadi sebelum menntukan harga, biasanya si oma memang selalu memeriksa dulu barang yang ditawar pembelinya.

akhirnya si pisang tandukpun ikut kami pulang ke rumah. sampai di rumah, sang pisang tak langsung dimasak…bahkan sempat terlupakan selama beberapa hari…(karena waktu dibeli, masih belum terlalu tua, jadi kupikir, disimpan dulu aja). setelah menanti beberapa hari, sang pisang akhirnya masuk ke dalam dandang untuk dikukus. tadunya kupikir dengan dikukus begitu, anak-anak dan papanya udah doyan… karena mereka biasanya suka banget sama pisang… (bukan turunan monkey lhoo…tapi bisa jadi, kalau teori Charles Darwin benar…hehehehe)

ternyata eh ternyata perkiraanku meleset, si papa cuma ngambil satu potong, Chiara…? boro-boro… baru ngeliat bentuknya aja dia udah memalingkan muka…sementara Revo.. yang jagonya pisang, cuma sempat makan sedikiiit, terus dilepehin… waduh… kalau begini caranya masak aku yang harus ngabisin pisang satu kresek itu…wah, berabe nih… kalau digoreng, berminyak banget sementara anak-anak dan papanya lagi radang tenggorokan (walaupun gak parah)

dan akhirnya setalah cukup lama berkontemplasi sambil mnatap sang pisang dalam-dalam… akupun mendapat “pencerahant”.. hmmmm… lagi kepingin makan brownies nih… kemarin dah buka-buka internet nyari resep brownies kukus (kenapa yang kukus? karena sementara ini belum punya alat pemanggang roti). trus, di rumah ada banyak pisang… bagaimana kalau dibikin brownies aja…kalaupun harus aku yang ngabisin sendiri aku kan sengsara-sengsara amat malah kebetulan… secara I am brownies lover gitchuuu…

nah setelah memodifikasi beberapa resep brownies yang aku punya… ditambah dengan sedikit keberanian, segenggam keyakinan dan segenap rasa cinta pada anak-anak dan misua…ceilah…jadilah camilan ini : Brownies Kukus Pisang Tanduk.. yang rasanya legit, teksturnya lembut banget… pokoke Top markotop deh kalau katanya Pak Bondan. dan yang penting, misua doyan, anak-anak antusias nyobain… trus apalagi yang dicari…:-)

kalau sudah begini, serasa bahagia banget… serasa dunia milik sendiri… yang lain ngontrak…! hehehehe…

semoga kebahagiaan kecilku ini, juga bisa menjadi kebahagiaan buat anda yang mencoba resep ini…

selamat menikmati hidup…!

 

 

 

 

 

 

 

 



{September 18, 2008}   Negeri Atas Awan (Part 1)

Sejauh mata memandang, yang terpampang di jendela oval itu hanya awan putih dalam beragam bentuknya. Seputih kapas, tampak lembut bagai menari ditingkahi deru mesin pesawat yang sudah hampir 1/4 jam ini bagai mengalun di telingaku. Kuperhatikan Chiara mulai berkutat dengan pensil warna dan buku gambar yang diberikan seorang pramugari cantik beberapa menit yang lalu, sementara si kecil Revo bergelung pulas dipangkuanku, memandang wajahnya yang damai dihiasi rambut ikalnya yang lucu betul-betul menjadi hiburan tersendiri mengatasi rasa bosan yang mulai bergayut di dada ini. Disebelah kiriku, Chiara’s grandma (yang notabene adalah mamaku) sibuk membolak-balik katalog beragam produk yang dijual di Pesawat yang memiliki logo burung kebanggaan Indonesia itu, maklum sudah jadi kebiasaan mamaku untuk shopping di udara, selain barangnya bagus-bagus, unik pula… begitu kilah mama jika kutanya tentang hobby nya yang satu ini. Iya sih, bagus dan unik… lha wong mahaaalll… batinku dalam hati sambil tersenyum. Tapi lumayanlah karena pasti ada saja barang yang dibelikan sang grandma untuk cucunya tercinta…

 

Penerbangan ini membutuhkan waktu 45 menit, waktu yang singkat dibandingkan dengan waktu 8 jam yang harus kutempuh 1 setengah bulan yang lalu. Saat itu rencananya aku dan kedua anakku hanya sekedar berlibur, tidak ada rencana untuk menetap. Sejak akhir tahun 2006 keluarga kecilku memang terpisah jarak ribuan kilometer. Bagaimana tidak, sang kepala keluarga yang adalah papanya Chiara & Revo (ya iyalah… emang papanya siapa lagi…?) harus meninggalkan kami di Depok demi menghidupi kami sekeluarga (wuuiihhhh… sedih bgt kata-katanya…). Dengan jatah cuti 2 minggu yang hanya bisa diambil setiap 3 bulan sekali, awalnya sungguh sangat berat buat kami (btw, masih untung 3 bulanan… orangl lain ada yang 6 bulan sekali lho….). tetapi lama kelamaan kami mulai terbiasa. Hanya saja bila melihat Chiara yang berteriak-teriak memanggil papanya setiap kali ada pesawat melintas di angkasa, hati ini bagai teriris. Tetapi kala itu pendidikan yang bagus buat kedua buah hatikulah yang menjadi pertimbangan aku dan suami ketika memutuskan untuk tinggal berjauhan seperti itu. Sampai suatu saat mama dan papaku datang ke Depok dan menawariku untuk liburan di tempatnya.

 

Sudah 2 tahun ini kedua orangtuaku tinggal di Jayapura karena tugas negara yang menuntut demikian (Ceilaaaah….). Terhitung masih dalam satu propinsi dengan lokasi tempat papa Chiara bertugas. Wah, pikir-pikir kapan lagi bisa jalan-jalan ke Papua, mumpung eyangnya Chiara lagi di sana dan belum pindah, setelah itu bisa sekalian nengok papanya Chiara di Timika….begitu pemikiran awalku. Akhirnya dengan persiapan untuk liburan, kamipun berangkat disertai kedua orangtuaku yang memang harus balik lagi ke Jayapura (lumayankan… bayangkan jika aku harus pergi sendiri dengan 2 bocah kecil ini…wah, nggak kebayang repotnya…). Jakarta –Jayapura sungguh penerbangan yang panjang, untung anak-anak gak rewel, sehingga jadi perjalanan saat itu betul-betul menyenangkan, bahkan si revo dengan pulasnya tertidur hingga pesawat tiba di Bandara Sentani Jayapura.

 

Di bandar udara ini pula kami disambut sebuah spanduk besar mencolok mata bertuliskan : KONDOM JAGA PAPUA, (wah-wah… spanduk itu betul-betul menggelitik pikiran dan perasaanku… bayangkan bagaimana peran besar si…. Untuk menjaga suatu kawasan yang sedemikian luas ini…ternyata penjagaan tidak diserahkan kepada tentara atau Polisi… ya,ya… bukan secara harafiah sih maksudnya…Cuma tetap saja hati ini geli). Jayapura, kota yang unik terletak di pinggir laut, dengan kontur tanah yang tidak rata alias bergunung-gunung. Aku jadi ingat komentar Chiara ketika sesaat setelah keluar dari bandara eyangnya berkata “Itu gunung, Chiara…” sambil menunjuk sebuah gunung yang menjulang di depan mata…Chiara terlihat takjub, oh…. Itu yang namanya gunung, eyang…. Tinggi sekali ya… banyak pohonnya lagi…” maklum anak mall, gak biasa lihat gunung, jadi heran…

 

Selama 40 hari selanjutnya kami tinggal di Dok 9 Base G Komplek Pengadilan Tinggi Jayapura, dan terbiasa menggunakan  sarana angkutan umum seharga 3000 perak untuk menjelajah kota Jayapura. Jika dilihat dari jauh, kota ini menyerupai kapal laut yang besar, apalagi bila malam tiba, cahaya lampu kelap-kelip, sungguh indah dipandang mata. Rumah-rumah penduduk dibangun mengitari gunung-gunung dan setiap kawasan dinamai Dok layaknya anjungan kapal laut yang bertingkat. Hanya saja tata kota dan kebersihan amat sangat tidak diperhatikan di kota yang berhawa cukup menyengat ini. Tumpukan sampah dan ludah merah bekas pinang seakan jadi barang lazim di sini. Pembangunan rumah-rumah pendudukpun terkesan tidak beraturan dan tak sedap dipandang mata. Sungguh merupakan hal yang patut disayangkan mengingat kondisi alam yang demikian indah dan mengesankan. Di kota ini tak ada satupun tempat wisata alam yang memadai. Satu-satunya tempat yang bisa dijadikan tempat rekreasi hanya pinggir pantai di depan Kantor Gubernur, yang setiap sore penuh sesak dengan masyarakat yang seakan haus akan hiburan. Sebetulnya pantainya cukup indah , namun sayang karena tak terurus, sampah berserakan dan tak ada fasilitas yang penunjang seperti toilet umum yang lazimnya ada di tempat umum semacam itu. Ketika kubertanya pada mama dimana lagi kami bisa menikmati pantai yang indah, beliau berkata di kota ini sebenarnya dikelilingi banyak pantai-pantai indah, hanya saja Pemerintah seperti lepas tangan dalam pengelolaannya, masyarakat yang tinggal di sekitar pantai itu akan semena-mena menarik uang dari wisatawan yang datang seolah-olah pantai itu milik mereka, dan tak tanggung-tanggung bisa ratusan ribu yang keluar dari kantong hanya untuk memandang lautan dari pinggir pantai, oleh karena itu satu-satunya pantai yang ramai dikunjungi orang hanya pantai di depan kantor gubernur itu, karena gratis.

 

Selama di Jayapura pula aku menemukan suasana keluarga yang kukira selama ini kupunya ternyata tidak. Kehadiran kedua orangtua yang lengkap seakan membuka mataku akan pentingnya arti berada dekat dengan anak-anak terutama di masa pertumbuhan mereka. Dan pintu hatikupun terbuka, jika selama ini yang kurisaukan adalah masalah pendidikan bagi kedua anakku jika mereka besar di Papua, maka saat ini itu bukan lagi masalah rasanya…karena berarti kami sebagai orangtua juga harus lebih smart untuk mengatasinya, dan  berdua kurasa kami bisa menjalaninya. Yah, kalau dipikir-pikir kapanlagi kami bisa punya waktu berkumpul bersama anak-anak kalau tidak sekarang disaat mereka memang betul-betul membutuhkan kehadiran kedua ortunya, kelak jika mereka telah berenjak dewasa, pastinya akan menjalani kehidupan masing-masing bukan? Di Jayapura pula layaknya wisata rohani bagiku, keraguanku diteguhkan dan semangatku sebagai orangtua serasa diperbarui. Akhirnya dengan tekad bulat kuputuskan untuk berkumpul sebagai keluarga kembali, tidak di Depok, tetapi di Timika.

 

Keputusanku yang tiba-tiba jelas membuat suami terkesima, jika selama ini aku gigih menolak ikut dengannya ke Timika, sekarang balik aku yang maju tak gentar ingin kumpul bersamanya. Tapi sebelum itu semua terwujud, kami harus menyelesaikan liburan ini dulu dan kemudian kembali ke Depok untuk membuat persiapan kepindahan kami. Membayangkan tinggal di Papua, selama ini…. Gak deh! Tempat suamikupun hanya pernah kulihat dari gambar dan foto yang dikirimkannya. Dan sekarang baru akan kuhadapi. Saat ini pesawat akan siap mendarat  di Bandara udara Moses Kilangin – Timika, di kiri kanan kulihat dataran hijau membentang dengan kelokan-kelokan sungai yang menyerupai ular  yang semakin lama semakin terlihat jelas. Wah… tak bisa kubayangkan, aku akan tinggal di tengah hutan seperti itu…. Hmmmm…

 

Kuala Kencana, tempat yang akan kutinggali, berjarak kurang lebih setengah jam perjalanan dari Bandara Moses Kilangin. Dengan pintu masuk yang berlapis dijaga para Security, sempat juga membuatku terperangah. Kotanya sangat sepi (tentu saja jika dibandingkan dengan Depok yang macetnya dimana-mana), kota ini lengang dengan jalan-jalan lebar yang dilengkapi jalan buat pengendara sepeda…pokoknya kayak bukan di Indonesia deh…tak kenal kemacetan, tak ada kebut-kebutan di jalan, tak ada angkot ngetem sembarangan, pokoknya semua serba tertib…(heran juga di Indonesia ada daerah seperti ini). Kuala Kencana telah membuatku jatuh hati, setidaknya hingga saat ini. Dan ketika kamipun harus kembali ke Depok untuk menyelesaikan urusan kepindahan kami, seakan kota ini memanggil kami untuk segera kembali. Jadi, di kota kecil inilah kami mulai menata kembali hidup kami bersama-sama; sebagai suami-istri, sebagai orangtua, dan tentu saja sebagai keluarga.



Akhir-akhir ini, kedua anakku sedang menggandrungi film yang merupakan salah satu karya Dreamwork dan karya skript perdana Jerry Seinfeld. Setiap hari, yang namanya itu film pasti disetel…Eh, lama kelamaan mamanya ikut terpengaruh jadi penggemar juga deh… Judul filmnya : Bee Movie. Kalau mau lihat synopsisnya, gampang kok… klik aja Official site nya di : www.beemovie.com

Karena ini adalah film yang full animasi, maka semua tokoh nya animasi, namun tentu pengisi suara menjadi salah satu daya tarik film ini. Well, mereka cukup terkenal dan punya jam terbang tinggi di dunia entertainment Negara Paman Sam sana lho…, sebut saja Jerry Seinfeld, Renée Zellweger, Matthew Broderick, John Goodman, Chris Rock… hmm, pasti menjanjikan jaminan mutu bukan? Didukung pula oleh actor dan actress lain seperti Kathy Bates, Patrick Warburton, Barry Levinson, Megan Mullally, Larry Miller, dan Rip Torn.

beemovie1.jpg

Secara ide cerita, film ini menurutku luar biasa. Aku sangat kagum dengan Jerry Seinfeld yang selama ini kita kenal bermain dalam serial Seinfeld (saat ini sudah habis masa tayangnya). Sebagai penulis naskah, Si mas Jerry ini benar-benar punya selera humor yang kocak abiss. Ditunjang dengan animasi yang benar-benar mengagumkan dari Dream work, sangat halus dan detil dalam setiap adegan.. Salut untuk yang mengerjakannya.

Bee Movie benar-benar menjadi tontonan yang menarik, menghibur dan sekaligus mendidik untuk orang dewasa dan anak-anak, sangat tepat untuk menjadi tontonan keluarga yang bisa memberikan kesegaran tersendiri. Jalinan cerita, serta dialog-dialognya sungguh sangat cerdas, menghibur, dan menggelitik…salah satu contohnya adalah ketika pada akhir cerita digambarkan Barry sang tokoh utama kemudian memilih berprofesi sebagai pengacara khusus masalah binatang. Dalam adegan terakhir itu, Barry harus meninggalkan seekor Clientnya -seekor sapi betina yg juga merasa terzalimi oleh manusia. Begitu Barry terbang keluar ruangan, masuklah seekor Nyamuk-Moose Blood (Chris Rock) berjas serta berdasi yang menggantikannya untuk mendengar pengaduan sang client. Melihat seekor nyamuk yang muncul, sang Sapi-client bertanya dengan nada heran: “Are you a lawyer too?”, dan Blood pun menjawab santai : “Hi..mam, I am already a blood sucking parasite, now all I need is a brief case” katanya sambil mengangkat koper coklatnya…mengena ya? (No heart feeling buat para pengacara lho ya?). ada lagi kalimat yang membuatku terkesan, yaitu ucapan sang guide tour di hexagon yang kemudian diulang kembali oleh Barry saat berada di dalam kockpit pesawat, yaitu : “Every small jobs if you done well, means a lot”. Brilliant! Just a simple line, but means a lot for a mother like me… don’t you agree, guys?

Pingin lebih tahu cerita lengkapnya? Makanya nonton… kalau masih belum sempat dan sekedar mau baca sinopsinya, berikut kutipan asli dari official site Bee Movie :
“From creator Jerry Seinfeld comes “Bee Movie,” a comedy that will change everything you thought you knew about bees. Take a close look at the world through the eyes of one bee in particular – Barry B. Benson (Jerry Seinfeld). A recent college graduate, Barry wants more out of life than the inevitable career that awaits him and every other worker in New Hive City – a job at Honex… making honey. Barry jumps at the chance to venture out of the hive, and soon encounters a world beyond his wildest dreams. When Barry inadvertently meets a quirky florist named Vanessa (Renée Zellweger), he breaks one of the cardinal rules of beedom – he talks to her. A friendship soon develops, and Barry gets a guided crash course in the ways of the human race. When he shockingly discovers that anyone can purchase honey right off the grocery store shelf, he realizes that his true calling is to stop this injustice and set the world right by suing the human race for stealing the bees’ precious honey.”
Oh, iya… si Revo kalau nonton ini pasti akan menangis keras melihat adegan si Barry yang berada di pundak Vannesa, dipukul dengan gulungan majalah oleh seorang penjaga toko swalayan. Alhasil sebelum adegan itu, ia pasti sudah gelisah (saking seringnya film ini diputar, dia jadi hafal kapan saat adegan itu terjadi)… untuk menenangkan Revo, ia pasti kupeluk dan matanya kututup saat adegan berlagsung, setelah adegan menegangkan itu selesai dan berlanjut ke adegan lain, diapun akan segera melepaskan pelukan dariku dan kembali menonton dengan riang. Ada-ada saja….! Ternyata, selain punya daya ingat yang cukup tajam, anakku ini ternyata juga berhati lembut… ya iyalah..anak siapa dulu geethoo! hehehe…



{April 2, 2008}   Arti Namaku (Chiara)

gbr10.jpg

Ketika aku lahir, papa dan mama telah menyiapkan nama itu untukku. Seringkali orang berkata: “Apalah arti sebuah nama…”, namun bagi orang yang percaya, nama itu bukan hanya sekedar nama tanpa makna…

NAMA adalah DOA.

Namaku diambil dari tiga nama orang kudus,

Yang pertama; BENEDICTA (merupakan nama babtisku)

Benedicta merupakan salah satu ragam untuk perempuan dari kata BENEDICT, yang dalam bahasa Latin artinya, “Terberkati”.

Orang kudus yang menggunakan nama ini adalah St. BENEDICT atau St. BENEDICTUS (480 – 550).

St. Benedict adalah bapa dari bentuk khusus yang kita kenal di barat – Peraturan Benedict, yang masih sangat berpengaruh di dalam gereja saat ini. Para rahib dan rubiah hidup, bekerja dan berdoa di rumah – rumah biara, sambil menghidupkan tradisi belajar, kesenian, dan keramahan. Benedict adalah orang Italy, lahir dari orangtua bangsawan dan mempunyai saudari kembar yang juga digelari orang kudus, bernama Scholastica. Biaranya sendiri didirikan di Monte Cassino tahun 547. Terlepas dari kebijaksanaan dan sikap moderatnya, Benedict juga dikenal sebagai penyembuh hebat dan perantara Allah untuk membangkitkan orang mati.

Hari pesta: 11 Juli

Lambang-lambang: bola api, gagak dan poci; tanaman berduri dan mawar; cangkir pecah dengan seekor ular di buku; biara di pegunungan.

Santo pelindung: para arsitek, para petani, para rahib, dan eropa.

Yang kedua; CHIARA

Chiara merupakan ragam untuk perempuan dari CLARE, yang dalam bahasa Latin berarti “Terang”.

Orang kudus yang menggunakan nama ini adalah St. Clare atau St. Clara.

St. Clare lahir di Asisi, Italia, mempermalukan keluarganya yang kaya (seperti pernah dilakukan Fransiskus) dengan menjalankan imannnya terlalu serius dan meninggalkan keluarga untuk hidup bersama Fransiskus, teman-teman rahib Fransiskus dan “ratu kemiskinan” demi cinta kepada Tuhan. Tentu saja peri hidup Fransiscan yang bebas di jalan tidak cocok bagi seorang wanita jaman itu, dan Clare harus puas dengan memimpin ordonya sendiri, Tarekat Wanita Miskin dalam gereja San Damiano dengan anggaran dasar yang ditulis St. Fransiskus. Meskipun ia dan suster-susternya tidak bisa bepergian dengan Fransiskus, mereka ambil bagian dalam devosi Fransiskus kepada Kristus dan terus mempertahankan hidup amat sangat miskin. Mereka merenda pakaian gereja dan linen dan menyerahkan kehidupan terkurung mereka kepada doa. Clare sendiri dicintai para susternya seperti Fransiskus dicintai para pengikutnya. Kesederhanaan Fransiscan tidak pernah memberatkan orang lain, tetapi tampaknya telah memberi kebebasan dan kegembiraan kepada setiap orang yang berani menjalankannya.

Hari pesta: 12 Agustus

Lambang-lambang: piala dan hosti; sebuah salib besar; monstrans; lili; siborium.

Santa pelindung: tukang renda dan mereka yang mengalami masalah mata; juga televisi – baik, karena namanya berarti “cahaya” maupun karena pada suatu perayaan natal ia diberi penampakan kandang Betlehem.

Yang ketiga; DOROTHEA

Dorothea merupakan salah satu ragam untuk perempuan dari kata DOROTHY yang berarti; “Hadiah dari Allah”.

Orang kudus yang menggunakan nama ini adalah St. Dorothy.

St. Dorothy merupakan martir dari masa pengejaran Diocletian. Ia adalah seorang pahlawan wanita Kristen yang romantis. Riwayatnya menceritakan bahwa ia seorang gadis jelita dari Cappadocia (Turki) yang dihukum mati. Ketika ia sedang digiring ke tempat hukuman mati, seorang pengacara, Theophilus mencemooh dia dengan meminta agar mengirim buah-buahan dan kembang dari kebun surgawi. Sesudah Dorothy mati, seorang anak muncul di hadapan Theophilus dengan sekeranjang bunga mawar dan buah apel seraya menambahkan dengan mengancam; bahwa Dorothy menunggunya di kebun. Theophilus bertobat dan tak lama kemudian juga dihukum mati.

Hari pesta: 6 Februari

Lambang-lambang: seorang malaikat dengan keranjang apel dan mawar; pedang; mahkota.

Santa pelindung: tukang kembang dan tukang kebun.
(disadur dari buku “Saints Names for Your Baby”

Secara harafiah arti namaku adalah Hadiah dari Allah, yang terberkati dan diharapkan menjadi terang bagi sekitarku… semoga…AMIN.
Teladan yang patut kucontoh dari ketiga orang kudus tersebut adalah:
B e l a j a r
K e s e n i a n
K e r a m a h a n
B i j a k s a n a
S e d e r h a n a
M e n c i n t a i
P a h l a w a n
R o m a n t i s
J e l i t a



{April 2, 2008}   Arti Namaku (Revo)

my-first-smile.jpg

I. At The First Time…

Halo sayang…
Kahadiranmu sungguh sanggat kami nantikan. Apalagi kakakmu Benedicta Chiara Dorothea alias Chiara yang baru saja merayakan ultahnya yang ke-2. tanggal 5 Desember 2006 yang lalu. Dengan suaranya yang nyaring dan masih sedikit cadel, kak Chiara sudah seringkali menyapa dan memanggilmu “Adek!” sambil mengelus, mencium bahkan tak jarang pula memeluk perut mama, tempatmu meringkuk dengan nyaman selama 9 bulan ini. Oh, iya kak Chiara bahkan punya nama panggilan untukmu, ketika ditanya adiknya bernama siapa, dia menjawab dengan lantang : “Adek Pius…” Lucunya lagi, sekarang kak Chiara punya kebiasaan baru yaitu suka sekali mandi pagi bersama mama. Kalau sudah begitu, setiap kali memegang shower, ia akan selalu menyemprotkannya ke perut mama sambil berkata : “Adek juga ikut mandi ya…?”

Boleh dibilang selama mengandungmu dalam rahim ini, tidak terlalu merepotkan. Morning sickness yang lazimnya dialami para wanita hamil, hampir tak pernah mama rasakan, mual dan muntah bisa dihitung dengan jari, seingat mama sih cuma 2 kali. Berbeda dengan kakakmu Chiara yang ngidamnya Bakmi ayam depan Bioskop Megaria Cikini, kali ini ngidammu agak international taste gitu…. Yaitu Bakmi Italy alias Spagheti dan Pizza…hmm, yummy!

Di triwulan pertama sampai kedua kehamilan, “mood” mama jadi jelek banget, suka marah-marah tanpa sebab dan cepat naik darah alias ambekan. Menginjak triwulan ketiga (7 bulan), lumayan udah lebih sabar dan happy, Cuma nafsu makan jadi gede banget… rasanya nggak pernah kenyang nih perut! Laper melulu…apa aja doyan, tapi bukan sembarang makan lho… doyannya makan makanan enak!! Repotnya, ukuran enak itu Cuma mama yang tahu… (papa aja sempat agak kesal kalau sudah mama kelaperan, tapi nggak tahu mau makan apa)… hehehe…

Cuma yang agak menyedihkan, sejak tanggal 11 Desember 2006, papa sudah tidak tinggal bersama kita lagi, karena tugas papa di freeport yang mengharuskannya kembali ke Papua… sedih juga sih, yah…mau bagaimana lagi… tapi semoga kita cepat berkumpul lagi, ya… kita berdoa saja… tapi jangan khawatir, di rumah masih ramai kok, selain ada mama dan kak Chiara, juga masih ada om Resta dan om Rio yang bersama kita.

Selama ini, mama selalu memeriksakan kehamilan di RS Hermina Depok, dengan pertimbangan selain fasilitasnya lengkap, letaknya juga cukup dekat dari Rumah, jadi kalau tiba saat persalinan, nggak terlalu repot. Semula mama periksa ke Dr. Muthia, mama pikir karena pasiennya banyak pasti dia dokter yang bagus donk…setelah 2 kali perksa ke Dr. Muthia, mama merasa kurang sreg dengan pelayanan dokter itu, selain karena ngantrinya lama berhubung pasiennya banyak, serasa nggak “worthed” dengan lama konsultasinya yang tak sampai 5 menit karena dokternya nggak komunikatif dan cenderung tak peduli. Akhirnya atas rekomendasi Tante Retno (tetangga depan rumah), mama pindah konsul ke Dr. FXA. Bhimantoro yang mama akui lebih ramah dan perhatian serta suka memberikan penjelasan yang berarti.

Ketika usiamu 18 minggu dalam kandungan, melalui USG, Dr. Bhima menyatakan kalau jenis kelaminmu laki-laki… wah, papa dan mama senang sekali! Sebelum ini pun kakakmu Chiara kalau ditanya mau adik cewek atau cowok, dia selalu bilang adik Cowok!, mungkin keinginannya didengar Tuhan ya? Pada dasarnya sih, mama nggak terlalu mempersoalkan apa jenis kelaminmu, yang pentng bisa lahir dengan sehat dan selamatserta tumbuh menjadi anak yang sehat pula. Kalau papa, kayaknya memang pingin punya anak cowok, biar lengkap punya sepasang cewek dan cowok, gitu…

Selama hamil, mama tetap bekerja seperti biasa, pulang kantor dijemput papa ber’motorcycle’ ria. Mama udah tanya ke Dr. Bhima soal yang satu ini, katanya sih nggak masalah asalkan nggak terkena goncangan yang fatal… alhasil, setiap kali akan melintasi Poldur alias Polisi tidur, apalagi yang tidurnya sekeluarga…papa selalu teriak : “angkat pantat!!”. Mama lebih suka dibonceng papa naik motor, karena kalau naik Kopaja 63, macetnya itu lho… nggak tahan! Tapi sejak papa kembali ke papua, kembali pula mama ke habitus lama bermacet ria bersama Kopaja 63…hehehe..

Oh, iya… saat usia kehamilan berumur sekitar 34 minggu, lewat usg ketahuan kalau letakmu sungsang alias kepala di atas dan bokong di bawah… wah, sempat khawatir juga! Dr. Bhima menyarankan agar mama ikut senam hamil biar diajarin posisi “nungging” untuk membuat posisimu kembali normal… alhasil setelah 2 minggu kemudian dengan 2 kali ikut senam plus setiap pagi dan sore praktek “nungging” di rumah…akhirnya posisimu pun kembali normal yaitu kepala udah di bawah…tetapi, saat minggu terakhir, yakni saat periksa terakhir ke Dr. Bhima, ternyata dari hasil pemeriksaan, kamu muter lagi ke atas ya, sayang? alhasil karena saat itu air ketuban nya juga tinggal setengah, ditambah ada mekonium di ususmu, terpaksa deh kamu lahir lewat operasi cesar.

II. It’s not just a Name

Seperti halnya untuk kakakkmu Chiara, mempersiapkan nama buatmu, bukan perkara mudah. Pasalnya mama dan papa ingin namamu, selain menjadi bagian dari identitasmu, juga mengandung arti dan makna yang baik. Nama itu adalah doa yang menjadi sebuah harapan kami buatmu.

Mengingat nama ini akan terus melekat dan dipakai sepanjang perjalanan hidupmu, maka mempersiapkannya pun tidak bisa main-main. Mulai dari membaca buku-buku tentang nama-nama bayi, sampai browsing internet telah kami lakoni demi mendapatkan seuntai nama yang tak hanya indah tetapi juga bermakna buatmu. Setelah melalui riset yang memakan waktu kurang lebih sebulan, kami pun sepakat menghadiahkan seuntai nama ini buatmu :

VINCENTIUS XAVIANREVO NAYOTTAMA

ARTI NAMAMU:

VINCENTIUS
Secara harafiah, nama Vincentius berasal dari bahasa Latin, yang berarti : Sang Penakluk. Dalam sebuah buku berjudul : ……….. Vincentius bermakna : kekuatan melalui iman. Hal ini dicerminkan dalam sebuah ayat Kitab Suci, yaitu Matius 9 :29.
Nama ini juga yang akan menjadi nama babtismu. Diambil dari nama Santo Vincentius Ferreri, yang penggalan kisahnya adalah sebagai berikut:

Santo Vincentius Ferreri, Pengaku Iman

gbr7.jpg

Dirayakan setiap tanggal 5 April
Santo Vincentius Ferreri dikenal sebagai pembuat mujizat, wartawan hari kiamat dan pentobat orang-orang berdosa. Ia lahir pada tanggal 23 Januari 1350 di Valensia, Spanyol. Ferreri adalah seorang anak yang dikaruniai rahmat istimewa. Pada usia 14 tahun, ia telah menyelesaikan pendidikan awalnya dalam bidang filsafat di Valensia. Pada usia 17 tahun, Ferreri diterima dalam ordo Dominikan dan dikirim ke Barcelona, Spanyol pada tahun berikutnya. Setelah beberapa lama ia mengajar filsafat di Lerdia., Spanyol, ia kembali ke Barcelona pada tahun 1373.

Setelah lama belajar di Toulouse, Prancis, kepribadian dan cara hidup Ferreri menarik hati Kardinal Pedro de Luna (yang kemudian menjadi Paus Benediktus XIII pada tahun 1394-1423 di Avignon) ketika terjadi skisma besar di kalangan Gereja Barat. Pada tahun 1379, Luna mengangkat Ferreri sebagai pembantunya untuk menangani persoalan kepausan di Avignon. Ketika Kardinal Luna dipilih menjadi paus, Ferreri menjadi penasehat dan bapa pengakuan pribadi paus di Avignon. Ia menolak penunjukan atas dirinya menjadi seorang kardinal dan pemimpin beberapa kantor Gereja karena ia lebih suka berkarya sebagai seorang misionaris di antara umat. Kira-kira pada tahun 1398, ia diserang demam yang membahayakan. Ketika itu, ia mengalami penampakan Yesus bersama Santo Dominikus dan Fransiskus Asisi. Dalam penglihatan itu, Yesus memerintahkan dia untuk mewartakan Injil di antara bangsa-bangsa. Setelah penampakan ini, Ferreri sendiri kembali dan bersiap diri melaksanakan perintah Yesus.

Selama 20 tahun, Ferreri mengelilingi Spanyol, Italia, Jerman dan Switzerland untuk mewartakan Injil bagi pertobatan orang-orang berdosa. Khotbahnya salalu dilaksanakan di luar gereja karena ruangan katedral tidak bisa menampung jumlah umat yang hadir. Ia berhasil membawa kembali orang-orang berdosa ke jalan yang benar di setiap negara yang dikunjunginya. Tuhan menganugerahkan kepadanya kemampuan berbahasa sehingga khotbahnya dapat dimengerti oleh para pendengarnya yang berbahasa lain, bahkan oleh para petani sederhana sekalipun.

Sekali peristiwa, dalam khotbahnya ia meramalkan bahwa Bernardinus dari Siena, seorang hadirin yang turut mendengar khotbahnya ketika itu, kelak akan dihormati Gereja sebagai seorang santo. Juga kepada Alphonso Borja, Ferreri mengatakan bahwa ia akan menggelarkan Santo kepada Ferreri ketika ia menjabat sebagai Paus. Ramalan-ramalan ini kemudian terpenuhi setelah Ferreri meninggal.

Proses penyelidikan terhadap Ferreri dilakukan. Setelah 873 mujizat diperiksa dan dinyatakan benar, maka panitia penyelidik menghentikan pekerjaannya. Mujizat terbesar ialah cara hidupnya yang keras penuh dengan doa, matiraga dan tapa, tetapi tetap bersemangat dalam melakmnakan tugasnya sebagai pewarta. Vincentius Ferreri meninggal dunia di Vannes, Inggris, pada tanggal 5 April 1419.

(disadur sesuai aslinya dari buku: ‘Orang Kudus sepanjang Tahun’, oleh: Mgr. Nicolaas Martinus Schneiders, CICM, disunting oleh: Drs. Michael Benyamin Mali, Penerbit OBOR, cetakan ke-VII, bulan Mei 2004. Gambar dari website: www.indocell.net/yesaya/id12.htm)
[Direktori Katolik Indonesia] – http://dikai.org

Papa mama berharap agar dengan menggunakan nama babtis Santo Vincentius sebagai Santo Pelindungmu, dirimu bisa belajar banyak dari pengalaman kudusnya, dan membuat hidupmu menjadi lebih hidup dan berarti tak hanya bagi dirimu tetapi juga bagi orang-orang di sekitarmu, AMIN.

XAVIANREVO
Xavian, berasal dari bahasa Arab, yang artinya : Cerdas. Nama inipun bermakna : Allah bijaksana, sebagaimana tersirat dalam Amsal 2: 10-11. Sedangkan Revo, merupakan nama panggilan pilihan mama yang diambil dari kata Revolusi, yang berarti : Perubahan (karena di saat-saat kelahiranmu, hidup kita sekeluarga sedang mengalami perubahan, semoga dengan kehadiranmu… perubahan yang ada merupakan perubahan yang dikehendaki Allah sehingga dapat membawa kita ke arah yang lebih baik)

NAYOTTAMA
Nayottama… Nama ini mama temukan dalam sebuah buku tentang nama-nama bayi. Berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya : kebijaksanaan yang utama (Bahasa Sansekerta dipilih, karena kata papa muatan lokal alias local contain namamu kok gak ada… nah, demi mengakomodir keinginan adanya Local contain tersebut, maka nama ini dipilihkan untukmu… )

Dengan menyatukan penggalan tiga nama tersebut, papa dan mama berharap akan menjadikan seuntai nama indah buatmu yang bermakna :

Laki-laki cerdas
Dan memiliki kekuatan iman
untuk membuat perubahan yang bijaksana

AMIN, semoga Tuhan merestui dan memberkati.



Punya dua orang anak di usia yg relative masih muda merupakan suatu anugerah tersendiri buatku pribadi. Ketika ada beberapa orang kawanku yang saat ini sangat mendambakan kehadiran anak di tengah bahtera perkawinannya. Tuhan telah mempercayakan 2 mahluk mungil ini untuk kuasuh.

Semasa sekolah hingga kuliah dulu, tak pernah terbayang bagaimana rasanya punya sebuah keluarga dengan seorang suami dan anak-anak yang
menghiasi hari-hariku. Hidup bagiku seperti air mengalir. Lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana, tentu menjadi kebanggaan buat ayah dan bunda. Mencari kerja tentu menjadi prioritas utama. Namun, sepertinya takdirku berkata lain, baru beberapa saat mencicipi dunia kerja, perkawinan merupakan
pilihanku selanjutnya. Semua seperti mengalir begitu saja. Pada awalnya, papaku tampak tak setuju…maklum orangtua, mungkin ada sedikit ketidakrelaan, karena saat itu aku baru saja memulai berkarir. Tetapi mama, mendukung pilihanku. Dan pada Januari 2004 akupun resmi menyandang gelar tambahan disamping Sarjana Hukum, yaitu Ny. Hananto.

3 bulan kemudian, aku mengandung anak pertama kami yang kini berusia 3 tahun, Chiara-panggilan kami untuknya. Ketika usia Chiara 9 bulan, aku memutuskan masuk ke dunia kerja lagi, dan syukurlah aku diterima bekerja di sebuah Kantor Hukum. Selama 1 tahun lebih aku merasakan capeknya jadi wanita karir. Berangkat pagi-pagi berlomba dengan sang mentari,mengumpat pada sopir angkot yg jalannya lelet (gak tahu kalau penumpangnya dah kesiangan), berebut naik kopaja 63 yang sesaknya minta ampun! Belum lagi mesti menahan diri untuk tidak emosi kala mendapati kelakuan “aneh” para segelintir penumpang pria yg mengumbar syahwatnya di tengah sesaknya penumpang… ugh, itu yang paling menjijikkan sekaligus mengesalkan. Hal yg sama pun berlaku saat jam pulang kantor, benar-benar capek di jalan…

Alhasil, setelah anak keduaku- Revo lahir, kuputuskan untuk menjalani kehidupan yang lebih tenang, dengan menjadi ibu rumah tangga. Mengingat anakku sudah dua geetooo, rasanya kasihan meninggalkan mereka apalagi di saat-saat masa pertumbuhannya. Aku telah banyak kehilangan moment berharga saat meninggalkan Chiara untuk bekerja, aku tak ingin hal yang sama di alami Revo juga.

Puji Tuhan, hingga saat ini Chiara dan Revo tumbuh normal (semoga begitu juga seterusnya). Walaupun lahir dari rahim yang sama, ternyata mereka memiliki karakter yang berbeda. Kuamati, Chiara memiliki pribadi yang periang, keras kepala, dan tidak sabaran. Geraknya sangat lincah, atraktif dan ekspresif dalam menyampaikan sesuatu. Sejak sudah bisa merangkak, hingga saat ini sudah mahir bernyanyi tentunya, tak terhitung lagi berapa kali dia jatuh, terbentur, benjol, lecet bahkan melepuh (kena knalpot motor) akibat kelincahannya itu. Kekeras kepalaannya itu yang terkadang membuatku kehilangan kesabaran (habis anak & mama sama-sama keras kepala!). teriakan dan tangisnya bisa bikin naik tensi darahku. Kalau amarahku sudah memuncak, nada bicarakupun meninggi (mungkin sampai 3 oktaf). Chiara biasanya jadi sangat takut kalau melihat aku marah. Dengan cepat dia akan merajuk… “maaf ya, ma… mama jangan marah donk… Chiara takut kalau mama marah..”sambil menarik-narik tanganku atau ujung bajuku. Nah, sebaliknya aku yang jadi keki, udah kadung tinggi tuh emosi… kan susah diturunin lagi… tapi melihat sorot matanya yang polos seperti itu, hati yang bekupun bisa langsung cair kali… tapi, aku seringkali gengsi untuk segera menurunkan emosi… yah… mamanya juga keras kepala sih… .

Pernah suatu kali karena tak tahan dengan kenakalannya, tanganku mencubit paha Chiara, dia menangis kencang…hati ini terasa teriris, namun sudah terlanjur kulakukan. Kalau sudah begitu, tinggal penyesalanku yang datang karena telah tak sadar menyakiti tubuh mungilnya. Jika sudah tenang kembali, aku pun memluk Chiara, kukatakan bahwa aku tak bermaksud menyakitinya, kujelaskan bahwa tindakannya tidak benar dan akupun minta maaf karena telah khilaf mencubitnya. Biasanya Chiara akan dengan senang hati mendengarkan penjelasanku dan sebagai gantinya dia juga meminta maaf atas kelakuannya yang membuatku tak berkenan. Dan kamipun berpelukan…

Namun sekarang, Chiara lebih pandai mengatur emosinya. Akupun sangat menghargai usahanya itu. Jika ia berhasil menguasai diri, acapkali dia berujar : “Aku pinter kan ma, gak nakal…aku sayang mama, aku sayang adek juga…” ucapnya sambil memeluk dan mencium pipiku, “Iya… anak mama pintar” ujarku terharu.

Sedangkan sang adik- Revo walaupun masih berusia 1 tahun, jika dibandingkan Chiara; terlihat lebih tenang, lebih sabar dan hati-hati. Di tahun pertamanya ini, sangat jarang ia terjatuh, Revo sangat berhati-hati ketika belajar merangkak, bahkan belajar berjalan. Dari bayi, anakku yang satu ini sangat jarang menangis, kecuali jika ia merasa sangat kesakitan, atau kecewa tidak kuperhatikan. Kalau berebut mainan dengan kakaknya, terlihat dia lebih banyak mengalah, tanpa tangisan. Kalau Chiara dulu saat usia 1 tahun sudah berani melangkah dan berjalan sendiri, berbeda halnya dengan Revo. Di usianya saat ini, dia hanya mau berjalan jika digandeng, begitu pegangan kita terlepas darinya dia akan langsung mengambil ancang-ancang merangkak.

Kuamati akhir-akhir ini Revo sudah mulai berani merangkak menerobos bawah meja atau bawah kursi, bandingkan dengan Chiara yang sudah mulai “mbrobos” (bahasa jawanya) seperti itu segera setelah ia bisa merangkak di usia 8 bulan. Namun begitu, Revo ternyata punya kontak mata yang begitu kuat dengan orang sekitarnya. Setiap kali diajak bercanda oleh orang yang tidak dikenalnya sekalipun, dia akan segera meresponnya dengan mengajak ber-ciluk ba…siapa yang tidak gemes kalau begitu…  saking responsifnya, pernah suatu kali dia diajak foto bareng oleh salah seorang staf marketing di sebuah counter pusat perbelanjaan, untuk kenang-kenangan-katanya.

Dari beberapa literature yang kubaca, banyak disebutkan bahwa periode emas perkembangan otak anak terjadi pada tiga tahun pertamanya. Dan saat ini sedang kubuktikan. Berbekal pengalamanku dengan Chiara, ternyata pada usia ini, daya serap kemampuan otak si kecil benar-benar mengagumkan. Oleh karena itu, aku berusaha semampuku (dengan dukungan suami tentunya) untuk terus mengasah, mengasuh dan mengasihi kedua malaikat kecilku ini, dengan satu tujuan : agar kelak mereka bisa menjadi orang yang berguna, bukan hanya untuk diri mereka sendiri tetapi juga untuk orang lain. Ya, Tuhan, bantu aku mewujudkannya… AMIN.



{April 2, 2008}   Papa, mama… ini aku datang!

Namaku BENEDICTA CHIARA DOROTHEA.
Aku lahir di RS. FATMAWATI, Jakarta Selatan; Minggu, 5 Desember 2004, pukul 14.40 WIB.
Dokter yang membantu proses kelahiranku: dr. Setyo (seharusnya, namun berhubung beliau harus operasi cesar di tempat lain, jadi digantikan oleh 2 orang dokter jaga yang cantik-cantik!)
Dokter yang merawatku: dr. Dody, SpA
Rekam medisku: Berat: 3100 gr
Panjang: 47 cm

Mau tahu bagaimana proses kelahiranku? begini ceritanya…

Tengah malam menjelang tanggal 5 Desember 2005, mama mulai merasakan sakit di bagian perutnya. Setiap satu jam sekali, rasa sakit itu muncul. Kata mama, rasanya seperti terserang diare. Pada jam 03.00 WIB dini hari, mama sudah nggak tahan pingin ke kamar kecil… eh.. malah BAB alias Buang Air Besar… tapi BAB nya seperti orang yang kena Diare karena encer… ketika itu papaku masih tenang-tenang saja, begitupun mama. Eh, paginya sekitar jam 06.30 WIB rasa sakit mama makin hebat, kali ini datang setiap lima menit sekali.. rasanya seperti orang datang bulan, kata mama. Pada waktu itu, Eyang Utiku dari Cilacap menelpon. Saat menerima telpon, mama sempat mengerang kesakitan, mungkin karena gerakanku ya?  kontan saja eyang Uti menyuruh mama segera ke dokter. Jam 08.30 WIB papa dan mamaku berangkat ke Rumah Sakit dengan tujuan memeriksakan keadaan mama., sebab mama masih yakin kalau dirinya kena Diare. Menurut perkiraan dokter, kelahiranku masih sekitar satu minggu lagi, sehingga mama dan papa dengan pe-de nya berangkat ke Rumah Sakit tanpa berbekal pakaian yang sebenarnya sudah dipersiapkan di tas.

Begitu sampai di RS. Fatmawati dengan Taxi, papa langsung mendaftar di bagian ruang bersalin, karena hari itu hari Minggu, maka poli kebidanan tutup, dokter kandungan tentunya hanya ada di ruang bersalin. Setelah mendaftar, mama kemudian dipersilakan masuk ruangan. Kata dokter jaga di situ, mama mau diobservasi. Masuklah mama ke ruangan yang berisi empat tempat tidur itu. Pada saat itu telah ada dua orang ibu yang juga tengah menanti kelahiran bayi mereka sambil sesekali mengerang menahan sakit. Tak lama kemudian, mama pun diperiksa oleh seorang dokter perempuan. Menurut dokter itu, kondisi mama saat itu sudah bukaan satu. Karena untuk persalinan normal dibutuhkan sampai bukaan sepuluh, mama disarankan untuk berjalan-jalan sebab menurut perkiraan dokter, aku akan lahir baru sore nanti menjelang malam. Pada saat itu, mama akhirnya benar-banar yakin kalau saat itu memang waktu kelahiranku. Papapun kemudian menelpon om Rio di Rumah untuk datang ke Rumah Sakit membawa baju-baju mama dan juga perlengkapanku. Tak sampai satu jam kemudian, sakit yang dilami mama makin hebat. Rupanya ruang observasi itu juga merupakan ruang bersalin untuk kelas II dan III, karena merasa kurang nyaman papa akhirnya memindahkan mama ke ruang bersalin kelas I yang berkapasitas untuk dua orang. Di ruangan itu, rasa sakit mama terus bertambah, sampai teriak-teriak segala…  papa bilang, papa sampai malu. Tapi mau bagaimana lagi… maklum, mama orangnya emang nggak tahan sakit! Malahan si papa sempat kena semprot mama, gara-gara tertawa waktu mendengar tangisan bayi yang baru lahir dari ruang sebelah… Dasar mama…

Detik-detik persalinanku pun makin dekat. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin menghirup udara luar dan merasakan hangatnya sinar matahari.. akibat desakan dan doronganku yang makin kuat, mama makin kuat pula menjeritnya! Padahal sudah dinasehati dokter berkali-kali untuk tidak teriak-teriak supaya nggak cepet capek, eh.. si mama tetap bandel! Abis, sakit sih… gitu kata mama.

Akhirnya tepat pukul 14.40 WIB aku nongol juga! Tangisanku kuat sekali… ketika diletakkan di dada mama, mama dan papa begitu bahagia, katanya mereka serasa tak percaya melihatku yang begitu mungil dan manis ini…  Halo, mama… papa… ini aku datang! Selamat datang sayang! Bisik mama di telingaku.



et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.